SENTIMEN PEKAN DEPAN: The Fed, ECB, dan BOJ Punya Agenda Penting

Tiga bank sentral terkuat di dunia The Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) - akan menggelar pertemuan kebijakan moneter masing-masing pada pekan depan.
Renat Sofie Andriani | 08 Juni 2018 09:31 WIB
Fed. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Tiga bank sentral terkuat di dunia – The Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) - akan menggelar pertemuan kebijakan moneter masing-masing pada pekan depan.

Ketiga pertemuan yang akan berlangsung dalam pekan yang sama tersebut diperkirakan akan menghasilkan penaikan suku bunga acuan oleh The Fed, potensi pengungkapan rencana berakhirnya langkah pembelian obligasi oleh ECB, serta pertahanan program stimulus besar-besaran oleh BOJ.

Pandangan hawkish Gubernur The Fed Jerome Powell memberi alasan bagi investor untuk membeli dolar AS saat hampir separuh bank sentral negara-negara dunia memiliki perbedaan sikap dalam hal kebijakan moneter mereka.

Hal ini juga mengancam akan mengintensifkan tekanan pada emerging markets, yang sudah dibuat bingung oleh penarikan stimulus AS dan semakin menyerukan The Fed untuk memperlambatnya.

“Kemungkinan The Fed akan tetap pada arahnya yang dapat diikuti oleh beberapa bank sentral lainnya meski dengan jeda waktu,” kata Stephen Jen, CEO Eurizon SLJ Capital di London.

“Inflasi di AS kemungkinan akan terus melayang lebih tinggi, sehingga mendesak The Fed untuk melakukan apa yang perlu dilakukan,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara The Fed memimpin, langkah penting yang tertunda oleh ECB setelah pelonggaran kuantitatif selama lebih dari tiga tahun mencerminkan meningkatnya optimisme bahwa ekonomi global tetap pada jalur untuk ekspansi yang solid pada 2018, setelah kegoyahan pada kuartal pertama yang mengguncang investor.

Para ekonom di JPMorgan Chase & Co. memperkirakan developed markets rebound untuk tumbuh 2,5% pada kuartal ini dari 1,6% pada kuartal sebelumnya.

Keyakinan seperti itu muncul terlepas dari isu perang dagang, munculnya pemerintahan populis di Italia, kenaikan harga minyak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, serta palpitasi pada emerging markets mulai dari Turki hingga Argentina. Semua faktor ini memberi tantangan terhadap pertumbuhan.

The Fed adalah yang paling optimistis dalam hal ini karena siap menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini pada Rabu (13/6/2018) waktu setempat. Pejabat Fed bahkan bisa saja memperbarui proyeksi mereka untuk empat kali kenaikan tahun ini secara keseluruhan, dari tiga kali kenaikan yang dipertimbangkan sebelumnya.

Dengan kebijakan pemotongan pajak senilai US$1,5 triliun yang mulai mengalir, para ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan ekspansi sebesar 2,8% tahun ini, yang menjaga tingkat pengangguran di kisaran level terendahnya dalam 20 tahun serta melampaui target inflasi 2% The Fed.

Dalam hal pengetatan lebih lanjut, The Fed dapat menyatakan bahwa fokusnya adalah pada pengelolaan ekonomi domestik terlepas dari penurunan di tempat lain.

Emerging markets pun memiliki risiko dari suku bunga AS yang lebih tinggi, yang mendorong dolar AS naik serta memacu investor untuk mengalihkan uang mereka ke tempat lain.

Turki dan India pekan ini mengikuti jejak Argentina, Indonesia, dan Meksiko dalam hal penaikan suku demi melindungi ekonomi mereka, sementara Brasil kembali melakukan intervensi untuk mempertahankan stabilitas mata uangnya.

Gubernur Reserve Bank of India Urjit Patel dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya telah meminta The Fed untuk memperhatikan tindakannya.

ECB dan BOJ

Pada saat yang sama, Ekonom ECB, Peter Praet, mengisyaratkan bahwa pembuat kebijakan akan mengadakan diskusi formal pertama mereka untuk mengakhiri program pembelian obligasi dalam pertemuan pada Kamis (14/6/2018) waktu setempat.

Sementara ECB masih bisa menunda keputusan akhir hingga Juli, ada alasan untuk mengambil tindakan saat ini. Inflasi melonjak ke laju tercepat dalam lebih dari satu tahun pada bulan Mei dan ekspansi ekonomi tetap utuh meskipun terjadi perlambatan dari level tertinggi dalam satu dekade pada tahun lalu.

Program pembelian aset yang dimulai pada tahun 2015 untuk menghidupkan kembali ekonomi Eropa tersebut dijadwalkan berjalan setidaknya hingga September, ketika kepemilikan akan mencapai total 2,6 triliun euro (US$3,1 triliun).

Ekspektasi pasar adalah bahwa laju pembelian - saat ini mencapai 30 miliar euro per bulan - akan meruncing menuju nol pada akhir tahun ini.

Di sisi lain, langkah pengetatan belum akan masuk agenda untuk BOJ, yang beralih ke pembelian aset bertahun-tahun sebelum The Fed dan ECB demi mengatasi kekuatan deflasi yang kuat di Jepang.

Bahkan dengan penambahan kontrol kurva imbal hasil ke dalam 'perangkat' Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda pada tahun 2016, BOJ masih membeli sejumlah besar obligasi pemerintah Jepang dan neraca keuangannya diatur untuk segera melampaui nilai output ekonomi tahunan negara.

Sejak pertemuan terakhir BOJ pada bulan April, data yang mengecewakan telah memperjelas bahwa Jepang masih jauh dari target inflasinya sebesar 2%. Indeks harga konsumen inti turun ke 0,7%, pertumbuhan upah turun kembali ke trennya, dan produk domestik bruto mengakhiri rentetan ekspansif terpanjangnya dalam hampir tiga dekade.

JPMorgan Chase dan Bank of America termasuk di antara bank-bank yang mendorong kembali perkiraan untuk pengetatan oleh BOJ. Bank sentral Jepang ini akan memulai pertemuan dua harinya di Tokyo pada Kamis (14/6/2018).

 

Tag : bank sentral
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top