SENTIMEN PASAR: Investor Tunggu Hasil Pertemuan Puncak G7 & KTT AS-Korut

Kalangan investor saat ini menyoroti sejumlah sentiment di dunia yang diyakini bisa memengaruhi pergerakan pasar
Linda Teti Silitonga | 08 Juni 2018 07:08 WIB
Pertemuan G-7 tingkat menteri. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA-  Kalangan investor saat ini menyoroti sejumlah sentiment di dunia yang diyakini bisa memengaruhi pergerakan pasar.

Berikut sejumlah agenda  yang tengah hangat dibicarakan kalangan pasar.

  • KTT AS-Korut 12 Juni

Presiden AS Donald Trump dikabarkan kemungkinan akan meneken perjanjian untuk mengakhiri secara resmi “perang Korea” dalam pertemuannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 12 Juni, dan kemungkinan peretmuan di Singapura akan berlanjut dengan kunjungan Kim ke Gedung Putih, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (8/6/2018).

"Kami benar-benar (meyakini) bisa menandatangani perjanjian," kata Trump Kamis pada konferensi pers di Gedung Putih dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe seperti dikutip Bloomberg.

Dia mengatakan publik akan dapat mendapatkan informas dari hasil pertemuan KTT AS-Korut tersebut. Trump menambahkan bahwa jika pembicaraan tidak berjalan dengan baik, dia memiliki daftar 300 sanksi tambahan terhadap Korea Utara yang siap diterapkan.

  • Pertemuan KTT Puncak G-7

 Kalangan investor juga menantikan pertemuan G-7 yang akan diselenggarakan di Kanada pada 8-9 Juni 2018 waktu setempat.

Sebelum menuju ke Singapura, Trump dikabarkan akan menuju Kanada untuk KTT puncak G-7.  Trump dikabarkan akan menghadapi sejumlah pemimpin dari negara kelompok tujuh lainnya yang sebagian telah dikenakan tarif impor olehnya.

Pertemuan pada hari Jumat dan Sabtu akan menjadi kesempatan pertama bagi sekutu terdekat Amerika untuk mengungkapkan kekecewaan mereka dalam pertemuan tatap muka dengan Trump, setelah dia memberlakukan tarif baja dan aluminium minggu lalu. 

Presiden Emmanuel Macron dari Perancis telah memperingatkan bahwa dia tidak akan menandatangani pernyataan bersama KTT G-7, kecuali jika ada kemajuan masalah tarif dan isu-isu kontroversial lainnya, kata seorang pejabat Rabu.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top