Ekonomi Terkontraksi, Jepang dalam Bayang-Bayang Resesi

Revisi data ekonomi yang memperlihatkan kontraksi ekonomi Jepang sebesar 0,6% secara tahunan pada kuartal I/2018 semakin meningkatkan ancaman resesi jika pelemahan terus belanjut pada kuartal II/2018.
Dwi Nicken Tari | 08 Juni 2018 17:31 WIB
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Bisnis.com, JAKARTA -- Revisi data ekonomi yang memperlihatkan kontraksi ekonomi Jepang sebesar 0,6% secara tahunan pada kuartal I/2018 semakin meningkatkan ancaman resesi jika pelemahan terus belanjut pada kuartal II/2018.

Berdasarkan median yang diestimasikan oleh polling Reuters, ekonom memperkirakan PDB akan direvisi menjadi 0,4% secara tahunan. Namun, revisi turun dari pengeluaran konsumen juga mengimbangi kenaikan belanja modal.

Kontraksi kuartal I/2018 juga menandakan akhir dari pertumbuhan delapan kuartal berturut-turut, periode ekspansi terpanjang sejak gelembung ekonomi pada 1980-an.

Indeks pengeluaran konsumen direvisi turun dan memperlihatkan pelemahan sedikit pada kuartal I/2018, yang dapat meningkatkan kekhawatiran bahwa ekonomi telah melewati puncaknya.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) secara tahunan yang diartikan ke dalam kontraksi kuartal-ke-kuartal direvisi menjadi 0,2% secara riil, tidak berubah dari data sebelumnya. Adapun median perkiraannya adalah kontraksi sebesar 0,1%.

Konsumsi privat, yang berkontribusi untuk lebih dari setengah PDB, turun 0,1% pada Januari-Maret dibandingkan kuartal sebelumnya. Data ini juga tidak berubah dari rilis sebelumnya.

Adapun pengeluaran untuk barang-barang tahan lama jatuh 0,9% untuk pertama kalinya, dibandingkan 2,1% kenaikan pada kuartal sebelumnya. Menurut pejabat pemerintah, hal ini dipengaruhi oleh penurunan penjualan mobil dan ponsel.

Searah, pengeluaran untuk barang-barang semi-tahan lama juga turun 1,8%, dari kenaikan 1,3% pada kuartal sebelumnya karena pengeluaran untuk pakaian berkurang.

Sementara komponen belanja modal tumbuh 0,3% dari kuartal sebelumnya, lebih dafi perkiraan median pertumbuhan 0,2% dan data awal penurunan 0,1%.

Meskipun demikian, data revisi permintaan domestik melemah 0,2% dari PDB, atau tidak berubah dari data sebelumnya.

Ekspor bersih (ekspor dikurang impor yang berkontribusi 0,1% untuk pertumbuhan ekonomi) juga tidak berubah dari estimasi awal.

Data tersebut pun menunjukkan bahwa program PM Jepang Shinzo Abe untuk mendorong perekonomian, ‘Abenomics’, akan kehilangan momentum dan inflasi masih jauh dari target bank sentral Jepang (BOJ) di level 2%.

Ekonom juga telah memperingatkan risiko resesi teknikal akan meningkat jika indikator ekonomi pada Mei dan Juni tidak memperlihatkan perbaikan.

“Saya tetap memperkirakan ekonomi akan melaju kembali pada kuartal II/2018, namun perkiraan output industri tidak terlalu kuat, dan friksi perdagangan dapat menjadi masalah,” kata Shuji Tonouchi, Senior Ekonom Pemasaran di Mitusbishi UFJ Morgan Stanley Securities, seperti dikutip Reuters, Jumat (8/6/2018).

Adapun penurunan konsumsi privat kemungkinan menambahkan kekhawatiran ke dalam ekonomi Jepang setelah proyeksi melemahnya pengeluaran rumah tangga dan output industri.

Data tersebut diperkirakan akan terus memberatkan langkah BOJ untuk mencapai target inflasi sebesar 2%, sebuah batas yang diinginkan bank sentral untuk mendorong perekonomian menjauhi deflasi. 

Tag : ekonomi jepang
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top