Investasi Tetap Untung Saat Rupiah Buntung

Nilai tukar rupiah yang melemah berakibat terhadap daya beli masyarakat, terutama untuk barang dan jasa yang memiliki kaitan langsung dengan mata uang negara lain dalam hal ini adalah dolar. Dampaknya juga bisa terasa pada nilai investasi kita.
Asteria Desi Kartika Sari | 11 Juni 2018 22:14 WIB

Nilai tukar rupiah yang melemah berakibat terhadap daya beli masyarakat, terutama untuk barang dan jasa yang memiliki kaitan langsung dengan mata uang negara lain dalam hal ini adalah dolar. Dampaknya juga bisa terasa pada nilai investasi kita.

Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan yang dapat berimbas terhadap fluktuasi pasar modal. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) sempat mencapai level Rp14.125 dilihat dari data Bloomberg.

Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo mengatakan pelemahan rupiah dapat menggerus keuntungan investasi. Di saat seperti itu, lanjutnya, pemahaman mengenai diversifikasi dalam berivestasi menjadi hal yang penting.

Sejatinya ketika melakukan investasi, investor tidak membuat keputusan berdasarkan kondisi pasar semata. Namun, tetap menyesuaikan dengan tujuan penggunaan dana apakah dalam jangka pendek, menengah atau jangka panjang.

Menurut Budi, bagi investor yang anak menggunakan dana dalam jangka pendek, maka investasi yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan menggunakan instrumen investasi pasar uang. “Ini untuk menjaga agar nilai uang tersebut tidak berfluktuatif,” kata Budi.

Sementara itu, untuk investor yang ingin menggunakan dana dalam jangka panjang serta degan profil agresif dapat mengoleksi saham yang dengan fundamental baik yang saat ini sedang terkoreksi harganya.

Bagi investor jangka menengah yang berencana untuk menggunakan dananya dalam jangka waktu 1 hingga 3 tahun ke depan dapat memanfaatkan instrumen pendapatan tetap. “Misalnya seperti SBR003 yang baru saja ditawarkan atau reksadana pendapatan tetap,” katanya.

Pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini turut membawa beberapa harga saham melemah. Kendati begitu, bagi investor dalam horizon jangka panjang dan memegang saham-saham yang berfundamental baik justru akan memberikan keuntungan dengan adanya pelemahan rupiah. “Misalnya, seperti [pemegang saham] emiten-emiten yang berorientasi ekspor diharapkan tidak terburu-buru untuk menjual sahamnya,” jelasnya.

Dia mengatakan bagi investor yang berorientasi jangka panjang dapat mengakumulasi saham tersebut agar dapat memanfaatkan potensi pelemahan sementara, untuk mendapatkan saham yang sedang terkoreksi nilainya.

Di sisi lain, untuk trader yang melakukan spekulas jangka pendek dengan kondisi pelemahan rupiah harus lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. Dia menyarankan sebaiknya melakukan pembatasan kerugian dengan menerapkan cut loss yang lebih ketat untuk mencegah kerugian yang lebih besar saat saham pilihan bergerak ke arah yang tidak diharapkan hingga pasar menunjukkan perubahan arah kembali dan lebih rutin merealisasikan keuntungan.

Sementara itu, untuk investasi seperti seperti emas diperkirakan kurang menarik. Pasalnya instrumen ini telah mengalami kenaikan harga sehingga cukup mahal apabila dikoleksi investor saat ini. Sebaiknya, emas dibeli saat rupiah kembali turun.

“Investasi emas harus diwaspadai saat ini, dalam jangka pendek nilai tukar emas agak tertekan karena pengutan dolar,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan perencana keuangan Aidil Akbar. Dia mengatakan saham yang berorientasi pada ekspor justru akan mendapatkan keuntungan saat rupiah melemah sehingga tidak masalah apabila investor telah menggenggam saham tersebut. “Kalau mau beli saham harus yang ekspor oriented, misalnya minyak naik akan diikuti dengan mineral lain. Saham batu bara juga akan naik juga,” kata Aidil.

Namun, apabila investor berinvestasi untuk jangka panjang, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi tersebut. Pihak paling terdampak adalah orang yang melakukan trading.

Aidil mengatakan seorang trader yang melakukan spekulasi jangka pendek harus berhati-hati, selain itu harus menaruh perhatian terhadap perusahaan-perusahan yang memiliki bahan baku impor. “Kalau yang [perusahaan] impor harus hati-hati karena cost mereka pasti akan naik,” katanya.

Selain itu, lanjutnya perlu diwaspadai saham dari perusahaan perbankan. Pasalnya, dengan penguatan dolar bisa saja berdampak terhadap suku bunga pada sektor perbankan. Apabila The Fed menaikan suku bunga bank, maka obligasi akan turun. Dengan kata lain, instrumen investasi obligasi perlu diwaspadai.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, investasi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top