EKONOMI JEPANG: Permintaan Mobil Terkerek, Ekspor Naik Lewati Prediksi

Kinerja ekspor Jepang naik pada Mei meningkat dengan laju tercepat dalam empat bulan terakhir, didorong peningkatan pengiriman dan suku cadang mobil serta peralatan semikonduktor.
Linda Teti Silitonga | 18 Juni 2018 11:52 WIB
Ilustrasi. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— Kinerja ekspor Jepang naik pada Mei meningkat dengan laju tercepat dalam empat bulan terakhir, didorong peningkatan pengiriman mobil dan suku cadangnya, serta peralatan semikonduktor.

Peningaktan permintaan mobil dan suku cadangnya serta peralatan semikonduktor mengindikasikan permintaan global makin kuat.

Ekspor naik 8,1% pada Mei dari periode yang sama tahun lalu, seperti dikutip Reuters, Senin (18/6/2018).

Angka pencapaian tersebut lebih tinggi dari estimasi median untuk kenaikan tahunan yang diprediksi di kisaran 7,5%, seperti diperkirakan sejumlah ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Sementara itu, pada bulan April, ekspor tumbuh tahunan 7,8%.

Pasar memprediksi ke depannya, ekspor masih akan terus tumbuh berkat peningkatan permintaan untuk peralatan manufaktur, mobil, dan suku cadang mobil.

Namun  surplus perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat menjadikannya target potensial bagi kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump.

Ekspor Jepang ke Amerika Serikat naik 5,8% yoy pada Mei, lebih cepat dibandingkan April yang ada di angka positif 4,3%, karena pengiriman suku cadang mobil yang lebih tinggi.

Impor dari Amerika Serikat naik 19,9% yoy, seiring peningkatan impor pesawat dan batu bara AS.

Akibatnya, surplus perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat turun 17,3% yoy menjadi 340,7 miliar yen (US$ 3,08 miliar) dan menjadi surplus terendah sejak Januari 2013.

Penurunan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat sepertinya tidak akan membebaskan Jepang dari kritik Gedung Putih, ketika pemerintahan Presiden Donald Trump menaikkan tarif untuk menurunkan defisit perdagangan AS dan memerangi apa yang dikatakannya sebagai kebijakan perdagangan yang tidak adil.

Trump mendorong pengenaan tarif impor yang besar untuk produk asal China senilai $ 50 miliar.

Sebaliknya Kementerian Perdagangan China mengatakan akan menanggapi dengan tarif “dengan skala dan kekuatan yang sama,” yang memicu kekhawatiran akan perang dagang besar-besaran.

Trump telah memberlakukan tarif impor baja dan aluminium, yang memengaruhi perusahaan-perusahaan Jepang, dan juga mengkritik Jepang karena rendahnya tingkat impor kendaraan Amerika.

"Ekspor akan terus pulih, tetapi saya sedikit khawatir tentang laju pertumbuhan," kata Shuji Tonouchi, ekonom pasar senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities seperti dikutip Reuters.

Dia mengkhawatirkan gesekan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, berdampak pada Jepang.

“Ini adalah faktor risiko untuk Jepang dan untuk perdagangan global. ”

Tag : ekonomi jepang
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top