Sebagian Perekonomian Asia "Nyaman" Dengan Kenaikan Suku Bunga AS

Kenaikan suku bunga Amerika Serikat mengguncang Emerging Market dengan cara yang sama dengan siklus sebelumnya.
Mutiara Nabila | 19 Juni 2018 06:13 WIB
suku bunga

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suku bunga Amerika Serikat mengguncang Emerging Market dengan cara yang sama dengan siklus sebelumnya.

Namun, sentimen hawkish Federal Reserve juga memberi keuntungan bagi sebagian kecil perekonomian Asia yang tak merasa bermasalah apabila mata uangnya melemah.

Kenaikan suku bunga The Fed tahun ini dan prospek akan adanya kenaikan lanjutan menaikkan imbal hasil Treasury AS, mendorong investor untuk mengganti utang Emerging Market (EM) yang lebih berisiko dan memicu pelemahan tajam pada mata uang negaranya.

Pasar di Argentina, Brasil, dan Turki paling terpukul. Di Asia, bank sentral India, Indonesia, dan Filipina telah menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan mata uangnya.

Kendati demikian, sejumlah analis menyatakan tak seperti negara lainnya, yang mengalami defisit keuangan, bank sentral di wilayah surplus seperti Thailand, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia tidak merasa terpaksa harus mengejar ketertinggalan karena kenaikan suku bunga The Fed.

"Saya tidak melihat negara-negara tersebut terpaksa dengan aksi The Fed karena mereka sudah mendapatkan surplus cukup besar dan justru mungkin senang jika mata uang dan arus modalnya melemah pada margin," kata Frederic Neumann, Wakil Kepala Bidang Riset HSBC, dilansir dari Reuters, Senin (18/6/2018).

Pelemahan mata uang dari aris portofolio dapat membantu memicu inflasi dan memberikan pengekspor sedikit dorongan pada saat ada ketidakpastian perdagangan global dan tanda bahwa perekonomiam China akan melemah.

Pertemuan bank sentral pada pekan ini di Thailand dan Taiwan akan memperkuat outlook, dengan sejumlah ekonom melihat hampir seluruhnya akan menaikkan suku bunga di Thailand, Taiwan, dan Korea selatan dalam 18 bulan kedepan, dibandingkan dengan kenaikan suku bunga The Fed hingga lima atau enam kali pada tahun depan.

Peso Filipina anjlok hampir 7% sejak memenyentuh level terkuat pada Januari, saat ini diperdagangkan di level terendah selama 12 tahun. Adapun, rupee India mendekati level terendahnya dan melemah dalam jumlah yang hampir sama.

Sementara itu, rupiah melemah 5% setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga dua kali.

Di sisi lain, won Korea Selatan, baht Thailand, dan dolar Taiwan seluruhnya melemah 3% dari level Januari, ditutup di level yang masih cukup tinggi dan sentral banknya mempertahankan suku bunganya tetap rendah.

Salah satu alasan mengapa surplus ekonomi tak lagi tertekan adalah karena posisi investor asing.

Di negara yang mengalami defisit, investor cenderung mengelola obligasi jangka pendek, yang lebih likuid dan tidak terlalu berisiko dibandingkan dengan utang jangka panjang. Sementara itu, di negara surplus, investor lebih nyaman mengelola sekuritas jangka panjang.

Sejak The Fed mulai menaikkan suku bunganya tiga tahun lalu, premium antara obligasi jangka pendek India dan Indonesia di hadapan obligasi AS terjun sekitar 200 basis poin. Di Filipina, premiumnya merosot dengan jumlah yang sama dalam setahun terakhir.

Tag : Suku Bunga
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top