Hati-hatilah Trump, China Bisa Buat Perusahaan Amerika Memar

China mungkin tidak mengimpor cukup banyak barang dari Amerika Serikat (AS) untuk menandingi pengenaan tarif impor oleh Presiden Donald Trump dalam nilai dolar AS, tetapi Presiden Xi Jinping masih bisa menekan perusahaan-perusahaan Amerika dengan cara lain sebagai aksi balasan.
Renat Sofie Andriani | 20 Juni 2018 08:31 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Bisnis.com, JAKARTA – China mungkin tidak mengimpor cukup banyak barang dari Amerika Serikat (AS) untuk menandingi pengenaan tarif impor oleh Presiden Donald Trump dalam nilai dolar AS, tetapi Presiden Xi Jinping masih bisa menekan perusahaan-perusahaan Amerika dengan cara lain sebagai aksi balasan.

Perusahaan-perusahaan asal AS, mulai dari Apple Inc. dan Walmart Inc. hingga Boeing Co. dan General Motors Co., beroperasi di China dan tertarik untuk melakukan ekspansi.

Hal ini memberi ruang bagi Jinping untuk menjatuhkan penalti seperti penundaan bea cukai, audit pajak, dan peningkatan pengawasan peraturan jika Trump melancarkan ancamannya atas bea yang lebih besar terhadap perdagangan China.

Bursa saham AS pun melemah pada perdagangan Selasa (19/6/2018) sebagai bagian dari meluasnya aksi jual di pasar global dalam respons terhadap ancaman Trump.

Jumlah total ekspor barang-barang AS ke China hanya mencapai nilai US$130 miliar tahun lalu, yang artinya tidak sebanding dengan potensi pengenaan tarif oleh Trump sebesar US$250 miliar atau lebih terhadap impor China, setidaknya secara langsung.

Tetapi jika mengukur ekspor dan penjualan perusahaan-perusahaan AS di China, AS memiliki surplus senilai US$20 miliar dengan China, menurut Deutsche Bank AG.

“[Menekan perusahaan-perusahaan melalui sarana birokrasi] adalah praktik yang telah lama digunakan oleh orang-orang China, dan perusahaan-perusahaan kami sedang berjaga-jaga,” ujar William Zarit, ketua Kamar Dagang Amerika di Republik Rakyat China, kepada Bloomberg Television. “Ini sudah pasti menjadi perhatian.”

Perusahaan-perusahaan Jepang telah merasakan efek ini, dengan bisnis mereka di China mengalami kerugian sebagai bagian dari perselisihan antar negara.

Produsen-produsen mobil Jepang mengalami penurunan besar dalam hal penjualan di China pada 2012, menyusul memburuknya perselisihan atas pulau yang disengketakan di Laut China Timur.

Tak hanya Jepang, pada 2017, menyusul keputusan pemerintah Seoul untuk menerapkan sistem anti-rudal yang ditentang China, pemerintah China memaksa Lotte Shopping Co., untuk menghentikan operasinya di negara itu karena dugaan pelanggaran aturan keselamatan kebakaran.

Raksasa ritel asal Korsel tersebut akhirnya memutuskan untuk menarik diri dari China, tetapi masih tidak dapat menjual semua unitnya dan terus merugi. Secara total karena perselisihan itu, Lotte Group merugi sekitar 2 triliun won (US$1,8 miliar) pada tahun dari Maret 2017, menurut Yonhap News Agency.

Reaksi itu juga menyebabkan boikot, dengan para konsumen menghindari produk-produk keluaran Korsel, seperti mobil dari Hyundai Motor Co. dan kosmetik dari Amorepacific Group.

Wisatawan China membatalkan liburan mereka ke Korsel, sehingga memaksa maskapai penerbangan untuk membatalkan penerbangan dan hotel demi memangkas harga. Bank of Korea (BOK) memperkirakan sebesar 0,4 poin persentase berkurang dari produk domestik bruto (PDB) 2017.

“Pemerintah China dapat mengatur boikot dengan sangat cepat,” kata Nicholas Lardy, seorang rekan senior di Institut Peterson Institure for International Economics di Washington. “Kami telah melihatnya berulang kali dengan kasus Jepang dan Korea. Mereka melecut mesin propaganda dan tiba-tiba tidak ada yang membeli Toyota lagi.

Bahkan sebelum ancaman terbaru Trump dilancarkan, beberapa perusahaan AS di China telah merasakan tekanan.

“Kami sudah mulai melihat beberapa pengawasan regulasi yang meningkat terhadap perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di pasar, apakah dengan meningkatnya penegakan bea cukai, inspeksi emisi lokal di pabrik perusahaan-perusahaan, penegakan hukum periklanan yang lebih ketat,” kata Jake Parker, Vice President of China operations untuk Dewan Bisnis AS-China di Beijing.

Salah satu keuntungan dari taktik ini untuk Jinping adalah bahwa kali ini pihaknya memiliki angka-angka, karena investasi AS di China jauh lebih besar daripada sebaliknya.

Perusahaan-perusahaan Amerika memiliki US$627 miliar dalam hal aset dan US$482 miliar dalam penjualan di China pada tahun 2015. Bandingkan saja dengan hanya US$167 miliar dalam aset AS dan US$26 miliar dalam hal penjualan di AS untuk perusahaan-perusahaan China, menurut laporan yang diterbitkan oleh analis China International Capital Corp., Liu Liu dan Liang Hong.

Satu sektor yang berisiko adalah otomotif, terutama mengingat preseden historikal dari perusahaan-perusahaan Jepang dan Korea Selatan. Seperti halnya produsen mobil asing lain, GM dan Ford Motor Co. telah melakukan investasi besar-besaran dalam produksi lokal di pasar mobil terbesar dunia tersebut.

China menyumbang sekitar seperempat laba GM tahun lalu dan sekitar 12% dari laba Ford, menurut Bloomberg Intelligence. Saham GM dilaporkan turun sebanyak 4,7% dalam perdagangan intraday di New York pada Selasa (19/6/2018), sementara saham Ford turun 2,7%.

Risiko Tesla

Jangan lupa, China juga merupakan pasar terbesar untuk kendaraan listrik dan meningkatnya perselisihan dari Beijing dapat semakin mempersulit upaya pemimpin Tesla, Elon Musk, untuk menutup negosiasi antara produsen mobil listrik ini dan pihak regulator China atas pabrik yang diusulkan di Shanghai.

Sebanyak 15.000 kendaraan Tesla yang dijual di China tahun lalu meraup pendapatan lebih dari US$2 miliar, sekitar 17% dari total pendapatan. Saham Tesla pun turun sebanyak 6,6% pada perdagangan Selasa.

Belum lagi Starbucks Corp. yang berencana meningkatkan lebih dari tiga kali lipat pendapatannya selama lima tahun ke depan dari China, sekaligus menjadikan negeri Tirai Bambu pasar terbesar perusahaan dalam satu dekade. Saham Starbucks turun 1,5% dalam perdagangan di New York.

Penjualan Pesawat Jet

Perlu dicatat jika AS memiliki surplus besar dalam hal perdagangan kedirgantaraan dengan China, sebagian besar karena kontribusi Boeing, eksportir terbesar AS. Surplus itu bisa menyempit jika pemerintah China memperbesar tarifnya pada pesawat jet Boeing 737, sumber keuntungan terbesar bagi produsen pesawat ini.

China sejauh ini telah menyatakan hanya akan menargetkan versi jet yang lebih kecil dan opsinya terbatas karena pesawat kompetitor dari Airbus SE asal Eropa sebagian besar telah terjual habis untuk beberapa tahun ke depan. Saham Boeing turun 3,7% pada jam 2.30 siang waktu setempat di New York, sekaligus penurunan terbesar pada Dow Jones Industrial Average.

Apple, yang menyewa perusahaan-perusahaan di China untuk merakit iPhone, mungkin telah mendapat penalti oleh AS meski sejauh ini mampu menghindari pengenaan tarif. The New York Times melaporkan bahwa Trump mengatakan kepada Apple, AS tidak akan mengenakan tarif pada iPhone, meskipun Peter Navarro, penasihat perdagangan utama presiden, mengatakan tidak mengetahui adanya pengecualian tersebut.

Satu hal yang dapat menyebabkan Xi menahan diri dari serangan berskala penuh terhadap perusahaan-perusahaan Amerika adalah kekhawatiran tentang dampaknya terhadap ekonomi domestik.

“China telah mencoba untuk menghindari hasil yang buruk dari konflik perdagangan AS-China,” kata Lu Ting, kepala ekonom China di Nomura Holdings Inc. di Hong Kong, seraya menambahkan bahwa negara itu meninggalkan 'beberapa ruang gerak' untuk negosiasi di masa depan.

“Tahun ini sulit bagi China karena negara ini akan menghadapi tekanan penurunan yang lebih besar pada pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang karena kampanye pengurangan utang (deleveraging) dan perlambatan pada beberapa tujuan ekspor utama.”

 

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top