Perang Tarif AS & China Meruncing, Sentimen Bisnis Asia Tergelincir dari Level Tertinggi 7 Tahun

Kepercayaan bisnis di antara perusahaan-perusahaan Asia tergelincir untuk pertama kalinya dalam tiga kuartal terakhir menyusul meningkatnya kekhawatiran bahwa kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump akan memicu tindakan balasan dan melemahkan sistem perdagangan global.
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 Juni 2018 10:44 WIB
Ilustrasi. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA– Kepercayaan bisnis di antara perusahaan-perusahaan Asia tergelincir untuk pertama kalinya dalam tiga kuartal terakhir menyusul meningkatnya kekhawatiran bahwa kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump akan memicu tindakan balasan dan melemahkan sistem perdagangan global.

Indeks Sentimen Bisnis Asia dalam survei Thomson Reuters/INSEAD, yang mewakili prospek bisnis dari 61 perusahaan, jatuh ke level 74 pada kuartal kedua tahun 2018 dari level tertinggi tujuh tahun terakhir pada 79 pada tiga bulan sebelumnya.

Sementara angka di atas level 50 menunjukkan pandangan positif, ini adalah pertama kalinya indeks menurun sejak September 2017. Ada pun survei dilakukan pada 1-15 Juni.

Antonio Fatas, profesor ekonomi yang berbasis di Singapura di sekolah bisnis global INSEAD mengatakan risiko terhadap pertumbuhan saat ini semakin menjadi nyata. Bahkan perang perdagangan menjadi kenyataan.

"Tarif impor AS bukan hanya akan naik terhadap China tetapi juga terhadap sekutu lamanya, seperti Kanada dan Uni Eropa. Mereka semua akan membalas dan hari ini kita tidak melihat jalan keluar yang mudah," kata Fatas, seperti dikutip Reuters.

Trump telah membuat marah negara sekutunya dengan kebijakan proteksionisme, termasuk pengenaan tarif impor baja dan aluminium di Uni Eropa, Kanada dan Meksiko. Pada Senin (18/6/2018), dia mengancam akan mengenakan tarif impor baru senilai US$200 miliar pada barang asal China.

"Perusahaan dapat mencoba menyiasati tarif tersebut dengan memindahkan produksi ke negara lain, ini mahal dan tidak efisien. Ini adalah solusi jangka pendek tetapi tidak optimal," kata Fatas.

Namun, kepala ekonom RHB Banking Group yang berbasis di Malaysia, Arup Raha, mencatat bahwa beberapa negara di Asia, dengan neraca eksternal yang kuat, relatif tahan terhadap gejolak global.

"Selain itu, pertumbuhan global, terutama di AS dan China, masih bagus. Selain itu, pertumbuhan upah di Asia menandakan adanya kekuatan domestik," tambah Raha.

Secara industri, ritel dan rekreasi menjadi yang paling bullish, sementara konstruksi dan teknik serta otomotif menjadi yang paling lemah. Sebagian besar sektor menyatakan kekhawatiran mengenai ketegangan perdagangan dan suku bunga yang lebih tinggi.

Responden survei termasuk perusahaan seperti Oil Search, Hero MotorCorp, Mahindra & Mahindra, Suzuki Motor, Asahi Group, SoftBank Group, Metropolitan Bank & Trust, SM Investments, Ayala Corp, Delta Electronics, dan Intouch Holdings.

Tag : EKONOMI ASIA
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top