Gedung Putih Sebut Agresi Ekonomi China jadi Ancaman Global

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan kritiknya tentang agresi ekonomi China dalam laporan yang dirilis oleh Gedung Putih pada Selasa (19/6/2018) waktu setempat.
Renat Sofie Andriani | 21 Juni 2018 10:36 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan kritiknya tentang agresi ekonomi China, dalam laporan yang dirilis oleh Gedung Putih pada Selasa (19/6/2018) waktu setempat.

Laporan sebanyak 35 halaman berjudul “Bagaimana Agresi Ekonomi China Mengancam Teknologi dan Kekayaan Intelektual Amerika Serikat dan Dunia” dirilis sehari setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan atas barang-barang dari China.

Dalam bagian pembuka laporan itu, China disebut “telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat untuk menjadi negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia seraya memodernisasi basis industrinya dan meningkatkan rantai nilai global.”

“Namun, banyak dari pertumbuhan ini telah dicapai secara signifikan melalui tindakan, kebijakan, dan praktik agresif yang jatuh di luar norma dan aturan global (secara kolektif, 'agresi ekonomi'),” jelas laporan Gedung Putih, seperti dikutip CNBC.

Laporan itu melanjutkan dengan menggambarkan praktik-praktik di mana China “berupaya untuk mengakses permata mahkota teknologi dan kekayaan intelektual Amerika.”

Tindakan agresi ekonomi China disebut termasuk pencurian teknologi dan kekayaan intelektual secara fisik dan siber, menghindari undang-undang kontrol ekspor AS, pemalsuan, pembajakan, dan rekayasa balik.

Sebagai catatan, laporan itu juga memaparkan ada risiko bahwa pemerintah China akan “berusaha memanipulasi atau menekan” salah satu dari lebih dari 300.000 warga China setiap tahunnya yang memasuki universitas-universitas di AS atau bekerja di lembaga-lembaga penting Amerika.

Menurut Gedung Putih, orang-orang China itu bisa menjadi “penghimpun informasi non-tradisional yang melayani ambisi militer dan strategis Beijing.”

Laporan ini juga mencantumkan “berbagai langkah pengaturan yang koersif dan intrusif untuk memaksa transfer teknologi asing dan [kekayaan intelektual] kepada para kompetitor China, seringkali sebagai pertukaran untuk akses ke pasar China yang luas.”

Kebijakan-kebijakan tersebut termasuk pembatasan kepemilikan asing, persetujuan administrasi dan persyaratan perizinan yang ketat, hak paten yang diskriminatif, serta pembatasan hak kekayaan intelektual lainnya.

“Mengingat ukuran ekonomi China, tingkat kebijakan distorsi pasar yang dapat dibuktikan, dan keinginan China untuk mendominasi industri masa depan, tindakan, kebijakan, dan praktik agresi ekonomi China sekarang menargetkan teknologi dan [kekayaan intelektual] dunia yang tidak hanya mengancam ekonomi AS tetapi juga sistem inovasi global secara keseluruhan,” laporan itu menyimpulkan.

Perselisihan perdagangan antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut meningkat setelah Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan Senin malam (18/6) waktu setempat, bahwa dia telah meminta Perwakilan Perdagangan AS untuk mengidentifikasi barang-barang China senilai US$200 miliar untuk dikenakan tarif tambahan.

Pemerintah China telah menanggapi dengan menyatakan China akan melindungi kepentingannya dan siap untuk melawan. Sebelumnya, Trump mengumumkan pengenaan tarif masuk untuk produk-produk asal China senilai US$50 miliar.

 

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top