Konsumsi Lebaran Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II/2018

Aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Lebaran yang terlihat dari peningkatan penggunaan uang kartal dan geliat bisnis jasa dan perdagangan menjadi pendorong ekonomi tumbuh hingga 5,1%5,2% selama kuartal II/2018.
Ipak Ayu H.N/Hadijah Alaydrus | 21 Juni 2018 12:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Lebaran yang terlihat dari peningkatan penggunaan uang kartal dan geliat bisnis jasa dan perdagangan menjadi pendorong ekonomi tumbuh hingga 5,1%—5,2% selama kuartal II/2018.

Itulah topik utama headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis 21 Juni 2018.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan perputaran uang cenderung meningkat pada musim Lebaran setiap tahunnya. Kali ini, aktivitas libur hari raya Idulfitri yang lebih panjang mendorong konsumsi masyarakat khususnya yang mudik ke kampung halaman pun meningkat.

Adanya tunjangan hari raya (THR) jelang Lebaran juga menjadi katalis positif yang meningkatkan aktivitas belanja masyarakat. Peningkatan laju konsumsi rumah tangga juga tercermin dari tren porsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi cenderung meningkat dibandingkan kuartal I/2018 yang lalu

Bank Indonesia bahkan mengklaim kebutuhan uang kartal selama bulan Puasa dan Lebaran tahun ini mencapai Rp188,2 triliun atau meningkat 15,3% dari periode yang sama tahun lalu.

Jos menjelaskan penggunaan uang kartal oleh masyarakat menunjukkan peningkatan tercermin dari berbagai indikator peredaran uang antara lain jumlah uang beredar dan net aliran uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia ke perbankan dan masyarakat atau net outflow. (lihat ilustrasi)

Meski demikian aliran uang kartal yang masuk dari perbankan atau masyarakat ke Bank Indonesia cenderung akan kembali normal dan meningkat pada bulan berikutnya.

Jos menjelaskan aktivitas bisnis jasa dan perdagangan seperti usaha perhotelan dan restoran di daerah tujuan mudik serta tujuan wisata juga mendapatkan cipratan rezeki yang tak sedikit dari masa libur dan cuti bersama yang cukup panjang.

Dia menyebutkans secara keseluruhan, faktor musim libur Lebaran diperkirakan akan mendongkrak laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Selain Ramadan dan libur Lebaran, faktor musiman panen raya yang masuk pada kuartal II/2018 juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya sektor pertanian.

“Sehingga secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2018 diperkirakan sekitar 5,15%-5,2%, meningkat dari kuartal sebelumnya 5,06%,” ujar Josua di Jakarta, Rabu (20/6/2018)

Senada dengan Josua, ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro menuturkan pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini dapat mencapai kisaran 5,15%—5,2%.

“Banyak faktor positif pada kuartal II/2018 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya,” kata Andry.

Dia menyebutkan faktor tersebut a.l. musim panen pada April, momen puasa dan Lebaran hingga Pilkada pada Juni ini.

Berbeda dengan proyeksi belanja pemerintah yang akan lebih baik, Andry justru memperkirakan konsumsi rumah tangga berada di kisaran 4,97%. Pertumbuhan konsumsi yang masih di bawah 5% itu diduga dipicu efek sektor komoditas yang belum sepenuhnya menggerakkan konsumsi rumah tangga di beberapa daerah.

Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk. Adrian Panggabean memperkirakan konsumsi rumah tangga pada kuartal II/2018 hanya akan mencapai 4,95% disebabkan oleh permintaan yang masih melambat.

TINGKAT KEPERCAYAAN

Salah satu faktornya adalah tingkat kepercayaan yang masih rendah. “Kelas menengah makin banyak menabung. Ini terlihat dari naik pesatnya pertumbuhan dana pihak ketiga segmen rekening Rp100 juta, Rp500 juta hingga Rp1 miliar,” ujar Adrian kepada Bisnis, Rabu (20/6).

Dari data LPS, jumlah simpanan kurang dari Rp100 juta naik 1,5% (mtm) per April 2018 dan Rp500-Rp1 miliar juga naik 0,32% (mtm) per April 2018 sehingga keseluruhan DPK per April tumbuh 0,44% menjadi Rp5.404,98 triliun.

Faktor lainnya, lanjut Adrian, konsumen masih melihat harga barang masih terlalu tinggi sehingga konsumsi tidak meningkat. Di samping itu, Adrian melihat adanya bayang-bayang pajak bagi masyarakat kelas menegah atas yang membuat kelompok ini masih enggan untuk mengeluarkan uangnya.

“Enggan belanja karena khawatir dikejar-kejar pajak,” ungkap Adrian.

Adapun Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo lebih optimistis dengan memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan mencapai 5,2% ditopang oleh kebijakan fiskal yang mendorong konsumsi. Kebijakan fiskal tersebut a.l. bantuan sosial, THR pegawai negeri sipil, dan gaji ke-13.

“Pada kuartal kedua, pertumbuhannya sekitar 5,2%, memang beberapa kebijakan fiskal mendorong untuk konsumsi dengan adanya gaji ke-13 dan lain sebagainya,” kata Perry, Jumat (8/6).

Kendati konsumsi jadi pendorong pertumbuhan, Perry melihat konsumsi rumah tangga belum bisa menembus 5%.

Senada dengan bank sentral, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2018 dapat mencapai 5,2%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga mengapresiasi suasana Lebaran tahun ini yang baik dan kondusif. Selain dari harga-harga komoditas pangan yang tidak ada kecenderungan bergejolak, aktivitas mudik juga tidak diwarnai pemberitaan buruk.

“Jadi bisa saya bilang suasana Lebaran kali ini lebih sejuk. Lebaran juga meningkatkan impor walaupun tidak begitu besar. Ekspor kita yang tadinya melambat hanya naik 8%—9%, sementara impor kita 21%," ujarnya.

Sisi lain, Darmin juga menyambut positif sejumlah gelaran kegiatan hingga akhir tahun nanti. Menurut dia, Pilkada serentak di 171 daerah dan 115 kabupaten/kota, akan menambah pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%.

Tag : Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top