PERANG TARIF AS-CHINA: Betulkah Gedung Putih Pertimbangkan Negosiasi Kembali?

Beberapa pejabat Gedung Putih dikabarkan berupaya menginisiasi kembali perundingan dengan China untuk menghindari perang dagang, sebelum tarif pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk China berlaku pada 6 Juli.
Renat Sofie Andriani | 22 Juni 2018 08:21 WIB
Ilustrasi. - .Antara/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa pejabat Gedung Putih dikabarkan berupaya menginisiasi kembali perundingan dengan China untuk menghindari perang dagang, sebelum tarif pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk China berlaku pada 6 Juli 2018.

Menurut sumber Bloomberg, staf Dewan Ekonomi Nasional telah menghubungi sejumlah mantan pejabat pemerintah AS dan pakar China dalam beberapa hari terakhir untuk mengukur peluang pembicaraan tingkat tinggi dalam dua pekan ke depan.

Salah satu ide yang muncul adalah dengan mengundang Wakil Presiden China Wang Qishan sebelum deadline pengenaan tarif. Belum ada respons dari pihak Gedung Putih sehubungan dengan kabar ini.

Langkah tersebut menandakan kesediaan beberapa pejabat AS untuk mengupayakan gencatan senjata sebelum produk-produk China senilai US$34 miliar terpukul oleh tarif, alih-alih memicu perang dagang antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Namun, kemungkinan perundingan semacam itu untuk terjadi dalam waktu dekat sangat tipis selama pihak-pihak bertentangan di dalam pemerintahan Trump mendukung tindakan yang keras terhadap China. Sementara itu, Presiden Donald Trump tidak menunjukkan tanda-tanda mundur.

Pemerintah AS telah menyatakan bahwa setelah tanggal 6 Juli, tarif impor atas barang-barang asal China dengan nilai US$16 miliar akan dikenakan setelah periode peninjauan publik.

Isu tentang ancaman tarif sendiri telah membebani saham AS dalam sepekan terakhir, dengan Dow Jones Industrial Average menuju penurunan hari kedelapan berturut-turut.

Balas Membalas

Setelah China secara cepat menanggapi langkah AS dengan menyatakan ancaman balasan atas jumlah tarif dan jadwal yang sama, Trump pada hari Senin mengarahkan kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) untuk mengidentifikasi produk-produk tambahan China senilai US$200 miliar yang akan dikenakan tarif 10%.

Pemerintah AS belum menerbitkan batas waktu untuk pengenaan tarif ini.

“Jika benar-benar menjadi perang besar, kita memiliki lebih banyak peluru daripada negara-negara lain,” kata Menteri Perdagangan Wilbur Ross kepada Bloomberg Television.

Ada pandangan berbeda dalam pemerintahan Trump tentang apa yang bisa dianggap sebagai kemenangan. Pihak garis keras seperti Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer dan penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro mendorong perubahan struktural terhadap kebijakan-kebijakan China.

Di lain pihak, Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Direktur NEC Larry Kudlow lebih menerima kesepakatan yang bertujuan untuk menurunkan defisit perdagangan bilateral.

Pertikaian Perdagangan

Perbedaan di dalam pemerintahan tentang bagaimana menangani China membuat lebih sulit bagi Gedung Putih untuk meminta Wang berkunjung dalam waktu singkat. Tetapi menurut sumber yang sama, pejabat pemerintahan lainnya berpikir tentang pembicaraan bilateral dalam jangka panjang.

“Kemungkinan yang lebih realistis adalah bagi Wang untuk berkunjung sebelum putaran tarif yang lebih besar diberlakukan,” menurut Derek Scissors, seorang analis China di American Enterprise Institute di Washington.

AS masih perlu merilis daftar produk yang terancam pengenaan tarif atas barang-barang China senilai US$200 miliar, dan kemudian akan ada periode komentar selama 60 hari sebelum berlaku.

“Kita baru saja gagal mencapai kesepakatan beberapa pekan yang lalu, sehingga sepertinya tidak mungkin untuk mencapai satu kesepakatan dalam beberapa pekan ke depan,” kata Scissors.

Kedua belah pihak telah mencoba, dan gagal, untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui putaran negosiasi sebelumnya.

Tensi AS-China bisa lebih tegang sebelum batas waktu pengenaan tarif. Departemen Keuangan dijadwalkan mengumumkan langkah-langkah untuk membatasi investasi China di AS pada 30 Juni, sebagai bagian dari pemeriksaan di bawah Section 301 USTR atas dugaan pencurian kekayaan intelektual dan pemindahan teknologi secara paksa.

 

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top