Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Baik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,11% ke level Rp14.086, hal ini dipicu kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih stabil.
Rinaldi Mohammad Azka | 22 Juni 2018 23:27 WIB
Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan (kiri), disaksikan Ekonom Permata Bank Josua Pardede memberikan paparan saat jumpa pers, di Jakarta, Selasa (25/6). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS  menguat 0,11% ke level Rp14.086, hal ini dipicu kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih stabil.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.

"Fiskal defisit masih 2,5% terhadap produk domestik bruto, walaupun dikoreksi, target pertumbuhan ekonomi pemerintah masih baik di atas 5%, dan inflasi juga masih sesuai prediksi Bank Indonesia," ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (22/6/2018).

Menurutnya, koreksi rupiah cukup dalam pada pembukaan pasca libur Lebaran 2018 merupakan dampak dari kenaikan suku bunga The Fed pada 31 Mei 2018 lalu. Libur membuat dampaknya terlambat.

Fenomena pelemahan ini dialami oleh seluruh pasar keuangan global. Saat ini The Fed sudah menaikkan suku bunganya 2 kali dan masih ada 2 kali lagi.

Menurutnya, Indonesia masih termasuk negara yang tidak mengalami pelemahan cukup dalam. "Jika dibandingkan dengan Rupee India dan Peso Filipina, kita masih lebih baik," imbuhnya.

Josua melanjutkan, normalisasi ekonomi yang dilakukan The Fed ini yang berpengaruh pada aliran modal asing di Indonesia. Ada peralihan dana asing dari pasar uang negara berkembang ke negara maju terutama ke AS.

Isu perang dagang AS dan China yang diprediksi memengaruhi volume perdagangan global juga mendorong dolar AS jadi semakin kuat.

Sisi baiknya

Penguatan rupiah pada akhir perdagangan juga dipicu data ekonomi Eropa yang melebihi ekspektasi dan tren kurs dolar AS yang melemah hampir dalam setiap mata uang setelah mengalami penguatan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Wardiyo, mengungkapkan pelemahan rupiah ini tidak berpengaruh terhadap inflasi. Menurut Perry, inflasi masih cukup rendah. 

BI juga memandang suku bunga acuan di kisaran 4,75% dan tingkat inflasi sekitar 3,5%-3,6% cukup kompetitif dan menarik bagi investor. 

Melihat fundamental ekonomi Indonesia yang masih baik, Josua pun optimis pergerakan rupiah minggu depan akan lebih baik, apalagi menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, 27-28 Juni 2018. 

Dia pun memprediksi awal minggu depan pergerakan rupiah di kisaran Rp14.000-14.150.

Tag : Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top