Negara Makmur, Kesuksesan Sepak Bola, dan Efek Piala Dunia

Apakah keberhasilan sepak bola sebuah negara berbanding lurus dengan kemakmuran negara tersebut? Bagaimana dengan negara Asia?
Jaffry Prabu Prakoso | 23 Juni 2018 11:22 WIB
Penonton Piala Dunia 2018 saat pertandingan Spanyol versus Portugal pada Jumat (15/6). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bulan ini menjadi bulannya sepak bola. Semua mata tertuju pada Piala Dunia 2018 di mana Rusia menjadi tuan rumahnya.

Namun, apakah keberhasilan sepak bola sebuah negara berbanding lurus dengan kemakmuran negara tersebut? Bagaimana dengan negara Asia? 

Berdasarkan penelitian Chief Economist DBS Bank Taimur Baig dan Economist DBS Bank Ma Tieying, Jerman dan Brasil menjadi pilihan favorit di Piala Dunia 2018 dari hasil survei internal yang mereka lakukan.

Secara keseluruhan, posisi 50 besar FIFA didominasi oleh milik negara berpendapatan menengah ke atas. Namun, peringkat di bawahnya sama sekali tidak menunjukkan hubungan antara pendapatan negara terkait dengan kesuksesan di dunia kulit bundar.

“Kami menemukan bahwa kecuali dua negara, yaitu Senegal di peringkat 27 dan Kongo di peringkat 39, peringkat tinggi dalam sepakbola memang wilayah yang dikuasai negara berpendapatan menengah dan atas,” papar laporan tersebut, seperti dikutip Bisnis, Sabtu (23/6/2018).

Sementara itu, sedikit sekali negara Asia yang berada di peringkat 100 besar. Negara Asia yang paling sukses, seperti Jepang dan Korea Selatan (Korsel), berada di bawah peringkat 50.

Bahkan, ruang lingkup Asia Tenggara berada di bawah peringkat 100.

China, yang telah melakukan investasi besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir, hanya mampu berada di ranking 75. Padahal, nilai pengeluaran Liga China tercatat melampaui Liga Inggris di bursa transfer musim dingin 2016.

Investasi langsung ke luar dan ke dalam pun sudah cukup besar. Perusahaan Cina telah mengakuisisi saham di beberapa klub sepakbola kelas atas, termasuk AC Milan, Atletico Madrid, dan beberapa klub lain di Inggris. 

Bandingkan dengan Islandia yang kecil dengan populasi penduduk 330.000 jiwa tapi menduduki posisi 20. Bosnia, yang berpenduduk 3,5 juta jiwa, juga menempati urutan 40.

Di sisi lain, Piala Dunia dan saham tampaknya tidak memiliki hubungan yang baik secara umum. Indeks pasar saham Singapura turun rata-rata 8,6% dalam dua bulan antara akhir April dan akhir Juni selama enam turnamen Piala Dunia terakhir.

Aktivitas perdagangan cenderung berkurang mulai Mei dan meluas hingga Juni selama musim Piala Dunia. Pada 2014, nilai perdagangan di Bursa Efek Singapura (Singapore Exchange/SGX) merosot 29% dalam dua pekan setelah Piala Dunia dimulai.

“Penurunan STI pada Mei tahun ini sejalan dengan harapan kami bahwa periode dua bulan dari Mei-Juni harus negatif bersih dengan aktivitas perdagangan yang relatif sepi. Kami memperkirakan aktivitas perdagangan menjadi lebih sepi bulan ini saat Piala Dunia dimulai, dan di tengah liburan sekolah pada Juni perhatian dialihkan dari pasar saham,” tulis laporan tersebut.

Bagaimanapun Piala Dunia adalah hiburan warga yang merakyat. Apapun yang terjadi terhadap perekonomian sebuah negara, masyarakat tersebut tetap menikmati pertandingan.

Tag : ekonomi, piala dunia 2018
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top