Ekonom: Pemerintah Mulai Berenang Ketepian

Agaknya peribahasa 'berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian, pantas untuk disematkan kepada kinerja APBN pemerintah. Setelah banyak usaha relaksasi yang menyebabkan kerugian dalam jangka pendek, pemerintah kini menuai hasil positif.
Rinaldi Mohammad Azka | 26 Juni 2018 01:10 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo memberikan paparan dalam konferensi pers Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) Kita di Jakarta, Senin (25/6/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Agaknya peribahasa 'berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian, pantas untuk disematkan kepada kinerja APBN pemerintah. Setelah banyak usaha relaksasi yang menyebabkan kerugian dalam jangka pendek, pemerintah kini menuai hasil positif.

Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai lebih dari setengahnya jadi catatan emas pemerintah.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), Ari Kuncoro, mengungkapkan pemerintah mulai menerima hasil dari upaya perbaikan perekonomiannya saat ini.

Menurutnya, relaksasi dan insentif yang dilakukan selama ini memang memberikan pengaruh negatif dalam jangka pendek, tetapi memperbaiki kualitas ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), surplus pada keseimbangan primer, pendapatan menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah.

PNBP total penerimaan per Mei lalu mencapai Rp145 triliun atau 52,62% dari pagu APBN 2018 yang dipatok Rp275,4 triliun. "Perhitungannya belum sampai tengah tahun, tapi sudah lebih dari 50%, ini menjadi catatan pencapaian pemerintah," ungkap Ari.

Keseimbangan primer realisasi 31 Mei 2018 mendapatkan surplus sebesar Rp18,054 triliun atau 19,8%, jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu yang defisit sebesar Rp29,8 triliun.

"Melalui konsep anggaran yang tidak terlalu ketat [banyak relaksasi] mungkin awal-awal defisit terlebih dahulu, yang penting uang yang ada di perekonomian berputar dan melalui itu dapat pajak ppn dan pph," jelasnya kepada Bisnis, Senin (25/6/2018).

Hal ini menjadi stimulus ekonomi dalam negeri karena perkembangan eksternal yang semakin tidak tentu. Dia pun menilai pemerintah mulai menerima hasil dari apa yang ditanam selama ini.

Saat ini, pemerintah dihadapkan pada berbagai tekanan seperti tahun politik dimana kinerja pemerintah sangat diawasi untuk suksesi kepemimpinan. Selain itu, volatilitas ekonomi global yang tidak menentu menjadi pemberat ekonomi saat ini.

Oleh karena itu menurutnya pemerintah tidak dapat berleha-leha.

Ari melanjutkan, usaha-usaha pelonggaran yang berdampak langsung pada masyarakat seperti loan to value (LTV) harus ditingkatkan. Menurutnya, relaksasi apapun itu bentuknya akan mendorong kinerja perekonomian dalam negeri menjadi lebih baik.

"Jangan konservatif, perubahan logika berpikir ternyata dapat mendorong perekonomian. Namun, karena perekonomian global masih tidak pasti, maka perlu inisiatif-inisiatif yang menguntungkan masyarakat," paparnya.

Tag : apbn
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top