Efek Pilkada Serentak terhadap Ekonomi Diproyeksi Tak Signifikan

Kontribusi pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 diproyeksi tidak akan signifikan kepada pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Hadijah Alaydrus | 27 Juni 2018 15:47 WIB
Warga menggunakan hak suaranya pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubernur Sulawesi Selatan di Kabupaten Gowa, Sulsel, Rabu (27/6). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- Kontribusi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018 diproyeksi tidak akan signifikan kepada pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menuturkan kontribusi Pilkada serentak 2018 hanya sekitar 0,01%-0,02% terhadap pertumbuhan ekonomi 2018.

"Peredaran uang mungkin naik tapi untuk overall ekonomi belum bisa dongkrak," ujarnya, Rabu (27/6/2018).

Dampaknya yang tidak signifikan ini disebabkan oleh beralihnya iklan dari media tradisional ke media sosial.

Selain itu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga membatasi alat peraga seperti banner, poster, dan lain sebagainya, di mana pemasangan tidak boleh dimulai sebelum waktu kampanye.
Alat peraga yang dipasang sebelum kampanye akan ditertibkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

"Jadi spending iklan kampanye tidak besar," tutur Bhima.

Namun, dia melihat ada kemungkinan belanja pemerintah untuk keperluan Pilkada dapat membantu mengerek perekonomian.

Pada Pilkada serentak yang digelar Rabu (27/6), ada 171 daerah di seluruh Indonesia yang ikut serta. Daerah-daerah itu terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. 

Tag : Pertumbuhan Ekonomi, Pilkada Serentak
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top