Sri Mulyani: Membaiknya Penerimaan Pajak Cerminkan Perbaikan Ekonomi

Bisnis.com, JAKARTA Tren positif penerimaan pajak dianggap sebagai cerminan perbaikan perekonomian. Seperti diketahui, per akhir Mei 2018 penerimaan pajak telah mencapai Rp484,5 triliun atau tumbuh sebesar 14,13% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.
Edi Suwiknyo | 27 Juni 2018 20:41 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan paparan dalam konferensi pers Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) Kita di Jakarta, Senin (25/6/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Tren positif penerimaan pajak dianggap sebagai cerminan perbaikan perekonomian. Seperti diketahui, per akhir Mei 2018 penerimaan pajak telah mencapai Rp484,5 triliun atau tumbuh sebesar 14,13% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.

Indikator perbaikan perekonomian tersebut bisa dilihat dari pertumbuhan penerimaan per jenis pajak. PPh badan misalnya realisasi per Mei 2018 mencapai Rp104,3 triliun atau tumbuh 26,97%, sedangkan PPN dalam negeri realisasinya mencapai Rp102,2 triliun atau tumbuh 12,12%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa kinerja penerimaan ini menunjukkan tren perekonomian mulai membaik. Pertumbuhan penerimaan PPh badan yang mencapai 26,97% serta PPN dalam negeri sebesar 12,12% bisa dimaknai bahwa aktivitas perekonomian mulai sejalan dengan ekspektasi pemerintah.

“Tren penerimaan pajak menunjukan hal yang positif. Kalau dilihat dari tren tersebut, realisasi penerimaan pajak menunjukkan suatu tingkat kegiatan ekonomi yang momentumnya terlihat sangat kuat,” kata Sri Mulyani Selasa (26/6/2018).

Bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga menjelaskan, indikasi perbaikan perekonomian ini juga bisa dilihat berdasarkan pertumbuhan penerimaa per sektornya. Meski turun dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, penerimaan pajak dari sektor manufaktur mampu tumbuh dua digit yakni 15,4%. Kontribusi manufaktur ke penerimaan pajak berkisar 30,03%.

Selain manufaktur, sektor perdagangan juga menunjukkan konsistensi pertumbuhannya. Per Mei 2018, sektor perdagangan tumbuh sebanyak 31,43% dan berkontribusi ke penerimaan pajak sebesar 21,22%. Sementara itu, sektor pertambangan, pertumbuhan sektor ini tercatat paling tinggi yakni sebesar 85,15% . Pertumbuhan sektor tambang yang naik signifikan ini merupakan imbas dari kenaikan harga minyak.

Adapun, indikasi lain dari membaiknya perekonomian juga bisa dilihat dari kempuan WP badan melunasi angsuran bulanan PPh badan. Catatan Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa pertumbuhan angsuran bulanan PPh Badan mencapai 22,43%. Pertumbuhan angsuran PPh badan manufaktur mencapai 11,11%, perdagangan 18,46%, jasa keuangan 16,77%, dan pertambangan yang naik cukup signifikan yakni tumbuh 121%.

"Sektor-sektor itu menggambarkan pertumbuhan demand supply cukup baik. Kami harap ini akan terpresentasi di statistik growth - nya," ungkap Sri Mulyani.

Secara umum, melihat sejumlah indikator perekonomian, selain pajak juga dari sisi penyerapan belanja, konsumsi rumah tangga yang diharapkan tumbuh lebih tinggi (di atas 5%) dibandingkan dengan kuartal I/2018, apalagi untuk kuartal dua ditopang oleh puasa Lebaran dan hari libur, investasi, ekspor, dan terkendalinya inflasi juga diharapkan menopang pertumbuhan perekonomian.

"Jadi semua komponen ini lebih tinggi dari kuartal I, kami harap mendakati 5,2%, kuartal II momentum itu terjadi karena seluruh komponen agregat demand lebih tinggi, dari supply side, pajaknya kan positif semua," jelasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penerimaan pajak

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top