Efek Kenaikan Suku Bunga BI Diyakini hanya Bersifat Sementara

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonsia sebesar 50 basis poin dinilai merupakan takaran dosis yang tepat untuk menahan volatilitas rupiah yang disruptif dalam jangka pendek, di tengah tekanan ketidakpastian global ke depannya dinilai masih besar.
Hadijah Alaydrus | 29 Juni 2018 19:44 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berbicara saat konferensi pers, di Jakarta, Jumat (29/6/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonsia sebesar 50 basis poin dinilai merupakan takaran dosis yang tepat untuk menahan volatilitas rupiah yang disruptif dalam jangka pendek, di tengah tekanan ketidakpastian global ke depannya dinilai masih besar. 

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual menuturkan pukulan hebat dari kondisi eksternal sejak pengetatan suku bunga AS hingga depresiasi yuan setelah China melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM) merespon perang dagang dengan AS menjatuhkan nilai tukar rupiah sehingga penyesuaian sangat diperlukan di tengah tingginya impor dari dalam negeri.

Dia meyakini keputusan BI tidak akan menganggu pertumbuhan ekonomi dari sisi pertumbuhan kredit. Pasalnya, pertumbuhan kredit masih flat hingga saat ini. Kondisi ini sudah berlangsung dari tahun lalu di mana pertumbuhan justru turun, ketika suku bunga diturunkan.

"Kalau tidak ada demand, tidak pengaruh sebenarnya," ujar David, Jumat (29/6).  Selain itu, dia melihat konsumsi masyarakat cenderung flat hingga kuartal kedua saat ini. 

Lebih lanjut, dia mengungkapkan tingginya defisit transaksi berjalan yang mengarah ke 3% membutuhkan penyesuaian dari suku bunga untuk mengendalikan impor dan ekspektasi rupiah ke depannya. Di sisi lain, David menilai pemerintah juga harus mengeluarkan strategi pembiayaan APBN agar defisit fiskal bisa tercapai di tengah tekanan kondisi saat ini. 

Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai ruang kenaikan suku bunga BI semakin tipis dengan kenaikan 50 bps. Jika kenaikan suku bunga acuan BI mencapai 5,75% hingga akhir tahun dengan asumsi kenaikan suku bunga acuan AS dua kali lagi tahun ini, kebijakan pengetatan ini dapat mengurangi sensitivitas kebijakan BI. 

Akhirnya, kebijakan ini akan bertolak belakang dengan kebijakan BI terkait dengan pelonggar makroprudensialnya melalui DP 0%.

"Tidak ada DP, tetapi orang bayar cicilannya besar. Kalau bunga naik, cicilannya besar, orang tambah tidak bisa beli rumah," ujar Lana. 

Tag : suku bunga acuan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top