Inflasi Diprediksi Rendah, Daya Beli Perlu Terus Didorong

Juni sudah berakhir, data inflasi Juni akan segera diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), banyak kalangan memperkirakan tingkat inflasi Indonesia dapat dijaga dalam posisi rendah.
Rinaldi Mohammad Azka | 01 Juli 2018 21:01 WIB
Warga membeli beras murah pada pasar murah yang diselenggarakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di kantor kelurahan Ngletih, Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (7/6). - Antara/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA - Juni sudah berakhir, data inflasi Juni akan segera diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), banyak kalangan memperkirakan tingkat inflasi Indonesia dapat dijaga dalam posisi rendah.

 
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia,  mengatakan inflasi komponen bahan pangan Lebaran 2018 rendah. Komponen ini yang menurutnya menjaga tingkat inflasi di level terkendali.
 
"Inflasi bahan pangan biasanya merupakan komponen terbesar pendorong inflasi lebaran, komponen inflasi yang lain juga cenderung meningkat di momen lebaran, terutama komponen transportasi, makanan jadi dan sandang," ungkapnya kepada Bisnis Minggu (1/7/2018).
 
Perlu diketahui, inflasi pasca lebaran tahun 2017 lalu, inflasi non bahan pangan berkontribusi hingga 0,55%, terhadap total inflasi Juni 2017 yakni 0,69%. Artinya, bahan pangan tidak menjadi faktor yang mendorong tingginya tingkat inflasi seusai Lebaran.
 
Faishal memproyeksikan inflasi bahan pangan tidak akan lebih dari 0,2%. Kalau pun inflasi bahan pangan di Juni hanya 0%, inflasi di luar bahan pangan akan berkontribusi lebih dari 0,3%. 
 
"Sehingga total inflasi saya kira tetap di atas 0,3%, jadi perkiraan saya [inflasi] Juni antara 0,3 sampai 0,4%," tegasnya.
 
Seperti mengamini proyeksi Faishal, Wakil Direktur Institute of Development for Economics and Finance (Indef) Indonesia Eko Listiyanyo mengatakan faktor ketersediaan barang dan daya beli masyarakat yang masih rendah memicu terkendalinya tingkat inflasi.
 
Menurutnya, impor bahan pangan pada musim puasa dan Lebaran 2018 cukup tinggi sehingga ketersediaan barang terjaga. 
 
Sementara, persoalan daya beli masih menjadi isu utama. Pemberian THR, gaji ke-13, dan belanja sosial menurutnya akan memberikan dampak, tetapi tetap ada tekanan pada daya beli masyarakat.
 
Faktor pemicu lain yang tidak dapat dikendalikan adalah tiket pesawat, bisa dan angkutan laut. Menurut Eko, walaupun pemerintah mematok kenaikan harga tidak boleh lebih dari 30%, prakteknya saat mudik harga tiket melambung tinggi.
 
Menurut Eko target inflasi Bank Indonesia (BI) masih bisa dicapai, meskipun beberapa komoditas harganya tetap naik. Dia pun sepakat dengan target inflasi BI tahun ke tahun (yoy) 2,98% atau memproyeksikan inflasi Juni 2018 lebih rendah sebesar 0,45%.

Tag : Inflasi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top