Berbisnis Tanpa Modal Uang, Mungkinkah?

Banyak yang beranggapan untuk menjadi pebisnis, modal yang paling penting adalah uang. Lantas apakah benar semua bisnis membutuhkan modal berbentuk uang? Padahal masih banyak modal usaha yang harus dipenuhi selain uang, salah satunya adalah kreativitas.
Asteria Desi Kartika Sari | 02 Juli 2018 17:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- “If you’re good at something, never do it for free” – Joker. Berangkat dari sepenggal kalimat dalam film Batman: The Dark Knight, memberikan makna apapun yang dimiliki dapat memberikan peluang untuk mendapatkan keuntung dalam dunia bisnis.

Banyak yang beranggapan untuk menjadi pebisnis, modal yang paling penting adalah uang. Lantas apakah benar semua bisnis membutuhkan modal berbentuk uang? Padahal masih banyak modal usaha yang harus dipenuhi selain uang, salah satunya adalah kreativitas.

Menurut perancana keuangan OneShildt Budi Raharjo, berbisnis pada intinya adalah mendapatkan keuntungan finansial dengan menukarkan baik barang ataupun jasa. Namun, saat ini berbisnis lebih kepada kemampuan untuk menciptakan dan menjalankan ide yang dibutuhkan oleh orang banyak. “Ide yang dijalanan ini tentunya perlu disampaikan kepada orang banyak, dalam istilah awamnya disebut promosi,” kata Budi, Senin (2/7/2018)

Ibarat memancing, jika memancing di kolam yang ikannya banyak, maka kemungkinan umpan akan dimakan oleh ikan akan semakin besar. Kolam dalam bahasa bisnis dapat dimaksudkan sebagai tempat usaha atau pasar.

Sejalan dengan pergeseran zaman yang semakin canggih, pasar pun dapat diciptakan sendiri seperti memanfaatkan sosial media seperti Facebook, Instagram, blog, dan sebagainya. Bahkan saat ini terdapat pasar digital yang tidak perlu menyewa tempat, seperti e-commerce.

“Bahkan seringkali juga terjadi barang yang dijual bukan barang milik sendiri, namun dari pedagang lain. Jadi di era sekarang sangat memungkinkan berbisnis tanpa modal. Jika modal minim, maka risiko juga minim,” katanya.

Dia menilai hobi atau keahlian yang dimiliki dapat menjadi suatu ide awal untuk menentukan bisnis yang ingin dijalankan, misalnya adalah fotografi. Namun, lanjutnya, yang harus diingat adalah hobi tersebut memiliki pasar yang besar atau banyak orang membutuhkan.

“Di sini kejelian diperlukan. Tidak masalah mau memulai dari hobi, tren atau kebutuhan. Yang jelas target atau sasaran konsumen jelas, dan pasar yang diinginkan cukup banyak,” jelas Budi.

Dia melanjutkan, setiap produk baik jasa ataupun barang yang akan ditawarkan harus dipahami, selain itu sarana atau channel sosial media atau digital mana yang paling sesuai agar bisnis dapat berjalan efektif.

Dalam memulai bisnis, tentunya setiap pelaku usaha memiliki strategi. Budi mengatakan strategi bisnis terbagi menjadi dua bagian, yakni menjual dan promosi yang harus dijalankan secara beriringan. Untuk mendapatkan keuntungan yang besar seorang pedagang dapat menjual dengan margin (keuntungan) besar per item barang yang dijual.

Cara lain dengan menjual barang dengan margin (keuntungan) kecil namun menjual dalam partai besar. “Pelaku juga harus tahu apakah produk yang ditawarkan dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen.Apakah dibeli sekali atau berulang-ulang kali,” lanjut Budi.

Tak kalah penting, biaya operasional harus dijaga agar tidak membesar untuk menjaga tingkat keuntungan laba usaha. Untuk itu, manajemen keuangan juga perlu matang.

Strategi yang dapat diakukan untuk melakukan manajemen keuangan adalah pertama, memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi. Kedua, melakukan pencatatan keuangan yang baik. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan monitor barang-barang mana yang paling menguntungkan bagi usaha sehingga perputaran usaha dapat dilakukan dengan cepat. Ketiga, miliki rencana bisnis agar usaha dapat berkembang dari waktu ke waktu.

Tag : entrepreneur
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top