Ekonom: Efek LTV Ke Ekonomi Masih Panjang

Efek relaksasi Loan To Value (LTV) yang diluncurkan bank sentral baru akan terlihat dampaknya secara jelas pada tahun depan.
Hadijah Alaydrus | 02 Juli 2018 19:43 WIB
ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Efek relaksasi Loan To Value (LTV) yang diluncurkan bank sentral baru akan terlihat dampaknya secara jelas pada tahun depan.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual mengatakan efeknya pada tahun ini belum akan signifikan karena pelonggaran kebijakan baru akan berjalan Agustus 2018.

"Kalau Agustus dan September baru dilakukan pengajuannya sehingga Oktober baru kelihatan jadi dampaknya masih kecil," ungkap David, Senin (2/7).

Dari sisi efektifitas, dia mengungkapkan instrumen LTV sebenarnya lebih cepat transmisinya ketika digunakan untuk mengerem pembelian rumah yang mengelembungkan harga, dibandingkan mendorong kredit atau penjualan rumah.

Jika dilihat ke belakang, pembelian rumah untuk tujuan investasi umumnya memberikan efek kepada pertumbuhan cukup tinggi dibandingkan pembelian rumah tujuan konsumsi (first time buyer). Tipe pembeli untuk tujuan investasi tentu akan menyasar pasar properti yang harganya di atas Rp1 miliar.

Jika minat pembeli ini meningkat, maka investasi properti juga akan bergerak seperti pada era booming komoditas 2010-2014. "Kami harapkan pertumbuhannya akan lebih tinggi dibandingkan first time buyer yang masih ada backlog 11 juta itu," tambahnya.

Namun, pembeli rumah untuk keperluan investasi ini akan mempertimbangkan kondisi perkembangan ekonomi dan politik serta pasokan dan permintaan dari rumah. Selain itu, pembeli tipe ini juga akan dihadapi oleh pertimbangan pajak.

Supaya efek LTV lebih efisien, David melihat pasokan rumah untuk first time buyer ini harus ditingkatkan karena potensi pembeliannya masih tinggi. Dia melihat beberapa pengembang banyak yang mulai menggarap pasar menegah ke bawah dengan harga di bawah Rp700 juta.

Di sisi lain, David mengingatkan agar pelonggaran di sektor properti ini juga diikuti oleh pengembangan sektor lain yang dampak ekonominya juga signifikan, yakni manufaktur dan pertanian.

"Harus semuanya kalau properti saja dampaknya kecil karena [pembelian] properti itu lebih sebagai dampak uang berlebih," kata David.

Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengungkapkan efek pelonggaran LTV dampaknya belum akan muncul dalam jangka pendek. Pasalnya, pelonggaran dari sisi uang muka yang besarannya dibebaskan ke bank membuat perbankan lebih hati-hati.

Contohnya, pemberian uang muka 0%. Bank akan sulit memberikan uang muka 0%, sekalipun ada tenornya harus diperpanjang. Jika tidak diperpanjang, debitur harus membayar cicilan dengan nilai yang besar karena tanpa uang muka.

"Apalagi 2019 ketika tahun Pilpres dan Pileg, dampaknya mungkin pada 2020 ketika ekonomi membaik," ujarnya.

Selain itu, harga rumah sudah sangat mahal saat ini. Akibatnya, kelas menegah ke bawah mengalami kesulitan mendapatkan harga rumah yang terjangkau. Jika pengembang tidak menurunkan harga akan sulit terdongkrak penjualannya.

Lebih lanjut, keinginan masyarakat untuk membeli rumah masih rendah saat ini. Lana mengungkapkan pemicunya adalah efek dari penurunan harga komoditas. Seperti diketahui, pembelian rumah paling besar ditunjukkan oleh masyarakat di luar Jakarta atau di daerah.

"Daerah sendiri ekonominya melambat, harga komoditas turun, itu juga yang membuat sektor properti masih belum menarik karena pendorongnya harga komoditas," kata Lana.

Keinginan masyarakat membeli rumah juga dipengaruhi oleh isu pajak sehingga menekan minat pembelian rumah. Ketika ada Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Calon Legislatif (Pileg), masyarakat akan semakin malas membeli rumah.

Tag : bank indonesia, ltv
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top