Babak Pengetatan Likuiditas Global Dimulai 2019

Likuiditas global diperkirakan akan kian mengetat seiring dimulainya kenaikan suku bunga di benua Eropa pada 2019 mengikuti pengetatan suku bunga di Amerika Serikat.
Hadijah Alaydrus | 03 Juli 2018 19:08 WIB
Senior Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara

Bisnis.com, JAKARTA--Likuiditas global diperkirakan akan kian mengetat seiring dimulainya kenaikan suku bunga di benua Eropa pada 2019 mengikuti pengetatan suku bunga di Amerika Serikat.

Senior Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengungkapkan dunia akan mengalami fase penurunan likuiditas pada akhir tahun seiring dengan pengurangan stimulus oleh ECB.

"Tahun depan suku bunga AS naik, stimulus ECB sudah tidak ada dan kemungkinan ECB di semester kedua 2019 mulai menaikkan suku bunganya," ungkap Mirza.

Saat ini, ECB masih melancarkan stimulus dengan melakukan pembelian aset. Tetapi jumlahnya kian menurun dari 80 miliar Euro pada 2016, menjadi 60 miliar Euro pada 2017 hingga 35 miliar Euro pada awal 2018. Pada akhir 2018, penurunannya diperkirakan akan mencapai 10 miliar Euro hingga mencapai 0. Setelah itu, ECB akan menaikkan suku bunga.
Pada 2019, Mirza mengungkapkan pihaknya masih melihat kenaikan FFR sebanyak tiga kali.

Dengan demikian, hal ini mengkonfirmasi bahwa tren global mengarah pada pengetatan likuditas. Melihat hal ini, investor global sudah melakukan antisipasi. Langkah tersebut terlihat dari 'kaburnya' dana di pasar negara berkembang (emerging market) ke pasar negara maju, seperti AS.

Ketika arus dana tersebut keluar dari negara berkembang, nilai tukar di berbagai negara mengalami depresiasi seiring dengan dolar indeks yang menguat. Selain itu, imbal hasil surat utang negara berkembang meningkat.

Dari awal tahun hingga 29 Juni 2018, surat utang Indonesia meningkat sebesar 152,4 basis poin. Peningkatan terbesar ketiga setelah Turki sebesar 462 basis poin dan Brazil 167 basis poin. Sementara itu, imbal hasil surat utang Malaysia dan Thailand tercatat naik sebesar masing-masing 29,2 basis poin dan 27 basis poin.

Perbedaan pemburukan imbal hasil ini disebabkan oleh tingkat kebutuhan masing-masing negara berkembang tersebut terhadap investasi asing dalam bentuk portofolio yang dipakai untuk membiayai defisit transaksi berjalannya.

"Seperti Indonesia itu [memiliki] current account deficit dengan defisit US$25 miliar. Defisit ini didanai satu dari PMA dan kedua dari inflows. Kalau dari inflow 40% surat utang pemerintah dimiliki asing jadi pada waktu mereka keluar terjadi pemburukan yield," kata Mirza.

Sejauh ini, Indonesia, Turki, dan Brazil mengalami defisit transaksi berjalan sehingga kenaikan imbal hasilnya cukup besar. Sementara itu, Thailand dan Malaysia berada dalam posisi surplus sehingga pemburukan imbal hasilnya tidak tinggi.

Untuk mengatasi hal ini, Turki telah menaikkan suku bunga acuannya hingga 975 basis poin hingga kuartal kedua tahun ini, menjadi 17,75%. India melakukan penyesuaian suku bunga 25 basis poin pada kuartal kedua ke level 6,25%.

Indonesia tercatat telah melakukan penyesuaian suku bunga ke atas sebanyak 100 basis poin hingga Juni 2018 ke level 5,25%.

Tag : bank indonesia, ecb, Kebijakan The Fed
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top