India Ternyata Jadi Acuan BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 Bps

India menjadi acuan kebijakan bank sentral dalam negeri dalam memutuskan menggerek 7 Day Reverse Repo sebanyak 50 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur 28-29 Juni 2018 lalu.
Hadijah Alaydrus | 03 Juli 2018 19:16 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA--India menjadi acuan kebijakan bank sentral dalam negeri dalam memutuskan menggerek 7 Day Reverse Repo sebanyak 50 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur 28-29 Juni 2018 lalu.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan pandangan bank sentral yang 'ahead the curve' saat ini diarahkan untuk mendorong daya saing Indonesia di antara peer group negara berkembang dalam menarik investasi portofolio asing ke dalam negeri.

Salah satu negara yang menjadi acuan Indonesia adalah India.

"Ketika kita mengambil keputusan itu [kenaikan 50 basis poin], kita melihat mana yang perlu di-benchmarking, contohnya India. Ini perlu 25 bps atau 50 bps, kalau 25 bps belum ahead the curve kalau dibandingkan dengan India. [Jadi] Perlu 50 bps," ungkap Perry, Selasa (3/7).

Sebelumnya, India telah melakukan penyesuaian suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%.

Hal ini harus ditempuh BI karena ekonomi Indonesia masih memerlukan pendanaan dari asing untuk membiayai defisit transaksi berjalan dan defisit fiskalnya. Salah satu, jenis pendanaannya adalah investasi portofolio, surat utang dan pasar modal. Ketika negara maju seperti AS melakukan pengetatan suku bunga, ada kecendurungan investor untuk mengambil posisi sehingga terjadi outflow dari negara berkembang.

Dampaknya, imbal hasil surat utang Indonesia memburuk. "Yang dihadapi Indonesia itu adalah investor global yang sangat picky," tegas Perry. Umumnya, mereka akan melihat imbal hasil dan premi risiko. Dengan demikian, RDG BI secara tergas ingin agar kenaikan ini tetap membuat pasar keuangan Indonesia tetap menarik.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara membenarkan bahwa banyak pihak yang membandingkan Indonesia dengan India, karena keduanya memiliki kemiripan dari sisi defisit ganda, yakni defisit transaksi berjalan dan APBN.

Di tengah pembalikan modal asing, investor global akan melihat posisi riil interest rate yang dirumuskan dari posisi suku bunga acuan dikurangi inflasi serta pergerakan potensi kurs mata uangnya dari sisi interest rate differential. Atas dasar pertimbangan itu, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.

"Hal ini yg kami gunakan pada saat kami membuat keputusan di RDG," tegasnya.

Tag : bank indonesia
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top