Perang Dagang: AS Siapkan Amunisi Untuk Indonesia

Jelang pemberlakuan tarif impor bagi China pada 6 Juli 2018, Amerika Serikat ternyata telah mengancam mencabut tarif bea masuk khusus untuk beberapa produk Indonesia.
Hadijah Alaydrus | 06 Juli 2018 10:29 WIB
Presiden AS Donald Trump saat pertemuan di Istana, Singapura, 11 Juni 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -Jelang pemberlakuan tarif impor bagi China pada 6 Juli 2018, Amerika Serikat ternyata telah mengancam mencabut tarif bea masuk khusus untuk beberapa produk Indonesia.

Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi mengatakan salah satu komoditas yang akan terkena adalah tekstil.

"Dia [Trump] sudah kasih kita warning karena ekspor kita lebih besar daripada ekspor mereka beberapa special treatment yang dia beri ke kita mau dia cabut," ungkap Sofjan di Halal Bihalal Apindo, Kamis (5/7).

Menurutnya, tidak ada satu pihak pun yang akan bisa mengukur efek perang dagang yang akan terjadi di masa depan.

Secara pribadi, dia menasihati pengusaha di dalam negeri untuk menjaga cashflow masing-masing bisnisnya.

"Jaga cashflow masing-masing karena efeknya tidak segera," papar Sofjan.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani membenarkan adanya upaya AS untuk meninjau kembali Generalized System of Preference (GSP) untuk beberapa produk Indonesia.

"Itu termasuk plywood, kayu, produk pertanian, udang dan macam-macam. Tekstil sebenarnya tidak, tidak masuk di 120 itu," kata Shinta.

Namun, Shinta melihat komoditas tekstil dapat terkena juga karena seluruh produk yang akan ditinjau.

Pemerintah dan pengusaha Indonesia sudah dipanggil ke AS untuk melakukan dengar pendapat. Pada 19 Juli 2018, Shinta mengungkapkan pihak AS akan kembali mengundang untuk melakukan dengar pendapat lanjutan.

Sejauh ini, Shinta melihat posisi Indonesia tidak terlalu terpuruk karena di satu sisi AS masih membutuhkan perdagangan dengan negara lain di tengah perang dagangnya dengan China.

"Posisi Indonesia cukup baik karena perang dagang China, AS tidak bisa afford itu, jadi saya lihat ada sisi positifnya," ujar Shinta.

Tag : Donald Trump
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top