Pemerintah Siap Perketat Impor

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan pemerintah akan fokus memperbaiki neraca perdagangan dengan terus mendorong ekspor dan pengetatan impor.
Rinaldi Mohammad Azka | 06 Juli 2018 14:50 WIB
Pekerja mengelas kawat tiang pondasi proyek double-double track (DDT) atau rel ganda Paket A Manggarai-Jatinegara, Jakarta, Jumat (21/). - Antara/Angga Budhiyanto

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah akan segera melakukan pengetatan impor terutama untuk barang yang berdampak langsung pada penghematan devisa.

Saat ditemui seusai rapat di Kantor Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Jumat (6/7/2018), Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan pemerintah akan fokus memperbaiki neraca perdagangan dengan terus mendorong ekspor dan pengetatan impor.

Dia mengungkapkan perang dagang AS-China dapat membuat Indonesia kebanjiran impor barang yang berasal dari kedua negara tersebut.

Airlangga menyatakan sektor industri yang berdampak sensitif adalah baja.

"Nah, sektor baja ini saya sampaikan agar tidak menjadi kebanjiran impor. Selama ini produksi baja Krakatau Steel misalnya, kalau dibanjiri produk impor ini sulit untuk meningkatkan utilisasi pabrik," terangnya.

Politisi Golkar ini melanjutkan sektor lain yang akan sulit bersaing saat kebanjiran impor adalah keramik. Jika impor keramik dari China membanjiri pasar Indonesia, maka industri lokal akan kalah dalam persaingan harga.

Guna mengantisipasi kebanjiran produk impor sektor tersebut, pemerintah akan membentuk working group atau kelompok kerja sama lintas kementerian sehingga dapat memaksimalkan pemanfaatan industri dalam negeri.

Selain itu, cara penghematan lain yang dibahas adalah mengenai substitusi impor bahan baku. Substitusi yang diprioritaskan adalah bahan baku yang mendorong investasi.

"Kita cari yang secepatnya yang langsung [berdampak] penghematan devisa. Nah, yang harus digenjot antara lain tentu untuk peningkatan utilisasi pabrik baja, keramik, semen, dan yang mendorong industri otomotif untuk ekspor," jelas Airlangga.

Produk garmen seperti pakaian jadi impor juga dapat disubstitusi oleh produk garmen dalam negeri.

Sebelumnya, AS telah menabuhkan genderang perang dagang kepada China dengan memberlakukan pengenaan tarif sebesar 25% terhadap produk impor dari Negeri Panda. Pengenaan tarif setara dengan US$34 miliar, dari total US$50 miliar yang direncanakan.

Pemberlakuan tarif ini efektif dilakukan Jumat (6/7) waktu setempat. Dengan dimulainya perang dagang, Pemerintah Indonesia harus bersiap menghadapi dampak yang terjadi terutama pada berkurangnya pasar ekspor dan kemungkinan datangnya barang impor dari kedua negara tersebut.

Tag : Neraca Perdagangan, perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top