MENDES PDTT: Gunakan Dana Desa untuk Penanggulangan Sampah

Dana desa tak melulu untuk membiayai pembangunan infrastruktur fisik. Di daerah pariwisata seperti di Bali, masyarakat didorong untuk memanfaatkan dana desa untuk pengelolaan sumber daya alam sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi, seperti penanganan sampah.
Fatkhul Maskur | 06 Juli 2018 23:00 WIB
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo di acara Konbes XVI Fatayat NU di Ambon. - Kemendes

Bisnis.com, JAKARTA - Dana desa tak melulu untuk membiayai pembangunan infrastruktur fisik. Di daerah pariwisata seperti di Bali, masyarakat  didorong untuk memanfaatkan dana desa untuk pengelolaan sumber daya alam sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi, seperti penanganan sampah.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengatakan bahwa saat ini ada tiga isu utama permasalahan, yaitu mengenai stunting, kemiskinan, dan sampah plastik.

"Stunting karena kurang gizi. Coba alokasikan dana desa untuk atasi stunting, sehingga desa bebas stunting. Kemudian masalah sampah, yang akan mematikan sektor pariwisata contohnya di mangrove, jika tidak dikelola dan dikendalikan," ujarnya dalam keterangan persnya, Jumat (6/7/2018).

Dia mencontohkan sampah plastik yang bisa berdampak luas apabila tidak ditangani. Sampah plastik bisa saja terurai secara fisik, dan nanti dimakan oleh ikan di laut.

Pada akhirnya hasil tangkapan nelayan itu berisiko menimbulkan penyakit apabila dikonsumsi karena mengandung partikel plastik. "Dana desa bisa dipakai untuk penanggulangan sampah, supaya tidak terbawa ke laut," katanya.

Dalam kunjungan kerjanya di Wantilan Pura Gegaduhan, Ubud, Gianyar, Jumat (6/7/2018), Menteri mengajak masyarakat melakukan usaha pengelolaan sampah/bank sampah melalui BUMDes. Selain membuat lingkungan terjaga kebersihannya, pengelolaan sampah bisa menghasilkan pendapatan.

"Contohnya Desa Panggungharjo. BUMDEDes-nya Panggung Lestari menjadi pengelolaan bank sampah, keuntungan bisa mencapai lebih dari Rp4 miliar. Sampah-sampah organik tersebut diolah sehingga menjadi pupuk organik. Bikin biomasa," katanya.

Dengan demikian, dana desa bisa menjadi stimulus untuk ekonomi melalui BUMDes yang mengelola sampah. Dengan kreatiVitas ini, katanya, dana desa bukan menjadi sumber utama tetapi jadi stimulus.

"Dana desa di sini sudah tersalurkan ke desa-desa 100% tahap 1 & 2, saya senang sekali. Mungkin dana desa diprioritaskan untuk membangun ekonomi desa sehingga dana desa bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Bupati Gianyar I ketut Rochineng mengatakan bahwa dana desa berperan strategis untuk pemerataan pembangunan. "Dana desa memprioritaskan tenaga kerja setempat, bahan baku, dan swakelola. Program Padat Karya Tunai (PKT) membawa dampak akan perluasan tenaga kerja."

Dia mengatakan bahwa dana desa tahun 2018 dialokasikan sekitar Rp51,9 miliar untuk sekitar 60 desa dan Rp38 miliar untuk program PKT.

Tag : Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Dana Desa
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top