Bank Kecil Pacu Digital Banking

Tak mau ketinggalan dengan bank besar yang telah lebih dulu menggarap pasar digital, bank-bank kecil juga terus mengembangkan layanan perbankan digital untuk meningkatkan daya saing.
Ropesta Sitorus | 09 Juli 2018 15:12 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan di Galeri ATM, di Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Tak mau ketinggalan dengan bank besar yang telah lebih dulu menggarap pasar digital, bank-bank kecil juga terus mengembangkan layanan perbankan digital untuk meningkatkan daya saing.

Hal ini antara lain dilakukan oleh bank dari kategori permodalan di antara Rp1 triliun – Rp5 triliun (Bank Umum Kelompok Usaha / BUKU) II.

PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (BRI Agro) salah satu yang intensif mengembangkan layanan digital, terutama di segmen konsumer.

Direktur Utama BRI Agro Agus Noorsantomenuturkan strategi tersebut dilakukan untuk menggenjot pangsa pasar segmen konsumer yang selama ini belum banyak digarap perseroan.

“Kami akan memperkuat konsumer, khususnya digital konsumer. Kami akan keluarkan produk digital banking,” katanya, kantornya belum lama ini.

Agus menuturkan pihaknya telah mengantongi izin dari regulator untuk produk internet banking tersebut. Produk yang akan diluncurkan pada Agustus mendatang tersebut dikembangkan dan dioperasikan lewat kolaborasi dengan induk usaha, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Dia menerangkan produk tersebut nantinya akan digunakan untuk menyalurkan kredit konsumer mikro dengan kisaran plafon dana maksimal Rp20 juta.

Alih-alih akan bersaing head to head dengan induk usaha yang juga dikenal sebagai bank Wong Cilik, dia yakin masih ada celah pasar yang dapat dimasuki di segmen konsumer mikro tersebut. Walau demikian, dia enggan memerinci lebih detail terkait produk baru dengan alasan masih menunggu peluncuran resmi.

“Produk digital tersebut untuk segmen konsumer mikro, khususnya Ini khususnya bagi mereka yang mungkin butuh dana cepat, tapi kisarannya Rp500.000 sampai Rp20 juta. Kalau BRI menggarap pasar pegawai, nah kami bermain di pasar yang tidak disentuh BRI,” katanya.

Agus tidak mematok target yang muluk-muluk dari produk digital baru tersebut untuk tahun pertama. Namun dia optimistis, setelah masa piloting, layanan perbankan digital tersebut akan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan kinerja perseroan.

“Tahun ini sifatnya masih piloting di beberapa perusahaan dan akan mulai diutilisasi pada tahun depan. Diharapkan net profit dari produk khusus digital ini diharapkan bisa mencapai 20% dari total laba bersih,” paparnya.

Sebagai gambaran, pada pada Mei 2018, total laba BRI Agro mencapai Rp110 miliar (unaudited) dan diharapkan tumbuh sekitar 64% pada akhir tahun 2018.

Selain produk baru, bank BUKU II ini juga tengah mengajukan perizinan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk peningkatan fasilitas kartu ATM agar dapat dipakai sebagai kartu debit.

“Sebenarnya ini termasuk produk dan layanan generik yang harus disediakan bank, yakni kartu ATM bisa dipakai belanja. Peningkatan fasilitas kartu serta internet banking diharapkan bisa memperluas transactional banking sehingga nasabah, porsi dana murah serta jumlah kredit bisa tumbuh,” paparnya.

Porsi Dana Pihak Ketiga BRI Agro masih didominasi oleh dana mahal deposito dengan kisaran 85%. Adapun, dana murah atau tabungan dan giro masih mengambil porsi 14% - 15%.

Bank BUKU II lain yang juga ingin akan ekspansif pada perbankan digital yakni PT Bank Maspion Indonesia Tbk. yang berpusat di Surabaya. Hal itu menjadi latar belakang perseroan bekerja sama dengan Kasikorn Bank asal Thailand.

Gandeng Asing

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis di Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama Bank Maspion Herman Halim menyatakan Kasikorn Bank memiliki pengalaman layanan IT dan e-commerce sehingga akan menguntungkan bagi bank yang ingin mengembangkan layanan digital bank.

Selain itu, Kasikorn Bank juga dinilai cukup kuat di segmen small medium enterprise (SME) serta pembiayaan korporasi, khususnya untuk perusahaan ekspor dan impor. 

“Kami berharap dengan adanya sinergi bersama Kasikorn Bank, kami dapat mengembangkan layanan digital banking dan trade finance untuk memberikan peningkatan layanan kepada nasabah,” katanya.

Lebih lanjut, Herman menyatakan saat ini perseroan telah memiliki layanan berupa MEB (Maspion Electronic Banking) dan MAVA (Maspion Virtual Account).

“Tapi ini masih perlu peningkatan. Ke depan, pengembangan digital banking diharapkan dapat membantu menghubungkan antarkomunitas,” ujarnya.

Bank Maspion masih berfokus pada segmen pasar ritel dan SME. Akan tetapi adanya sinergi dengan Kasikorn Bank diharapkan akan memperluas cakupan bisnis Bank Maspion, termasuk ke segmen pasar korporasi. Bahkan, Bank Maspion juga menyimpan harapan untuk mengembangkan jaringan kantornya ke luar negeri apabila sudah naik BUKU.

Adapun, bank asal Thailand itu telah memiliki jaringan di beberapa negara yakni Kamboja, China, Jepang, Myanmar, Laos, Vietnam dan Amerika Serikat. Manajemen Kasikorn Bank tengah ingin mengembangkan pasar di Asean lewat sinergi dengan Bank Maspion.

Tag : perbankan
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top