Data Penjualan Ritel Bisa Topang Penguatan Rupiah

Data penjualan ritel Mei yang akan dirilis Bank Indonesia pada Rabu (11/7), akan menjadi motor penguatan rupiah dalam minggu ini.
Hadijah Alaydrus | 10 Juli 2018 09:53 WIB
Petugas memindahkan uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay
Bisnis.com, JAKARTA--Data penjualan ritel Mei yang akan dirilis Bank Indonesia pada Rabu (11/7), akan menjadi motor penguatan rupiah dalam minggu ini.
 
Hussein Sayed, Chief Market Strategist Forex Time (FXTM), menuturkan rupiah memasuki pekan perdagangan baru dengan positif karena Dolar AS melemah. 
 
Adapun, dia melihat perhatian investor akan tertuju pada data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan untuk dirilis pada Rabu. 
 
"Data penjualan bulan Mei bisa memberi wawasan baru mengenai keadaan ekonomi Indonesia. Jika data aktual lebih besar dari proyeksi pasar yaitu 4.4% maka rupiah berpotensi semakin menguat," papar Sayed dalam laporannya, Selasa (10/7).
 
Ketegangan dagang mendominasi tajuk utama pekan lalu, namun investor Wall Street mengabaikan isu perang dagang dan menyambut gembira laporan lapangan kerja Amerika Serikat. 
 
Dari data otoritas terkait, sebanyak.213.000 lapangan kerja baru dibuka di AS pada Juni lalu. Nilai ini jauh melampaui proyeksi 195.000 lapangan kerja. 
 
Sementara itu, data lapangan kerja pada Mei meningkat dari 223.000 lapangan kerja menjadi 244.000 lapangan kerja. 
 
Akan tetapi, pertumbuhan upah sedikit lebih rendah dari ekspektasi 2.8% YoY yaitu 2.7%. 
 
Walau demikian, Sayed mengungkapkan pertumbuhan lapangan kerja yang baik dan rendahnya inflasi upah adalah kombinasi positif untuk pasar saham di AA karena alasan sederhana. 
 
"Pertumbuhan lapangan kerja yang baik mencerminkan kekuatan ekonomi, inflasi upah yang rendah memberi fleksibilitas ekstra untuk Federal Reserve untuk memperketat kebijakan," tegas Sayed.
 
Namjn, dia mengatakan keadaan positif bisa terhenti kapan saja, apabila investor yakin bahwa ketegangan dagang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan.
 
Sejauh ini, AS telah memberlakukan tarif US$34 miliar untuk impor dari China, begitu pun China terhadap impor AS. 
 
"Tahap ini jelas sudah terefleksikan pada harga."
 
Di pasar FX, Indeks Dolar merosot ke level terendah sejak 14 Juni yaitu di bawah 94 karena pertumbuhan upah yang stagnan. 
 
"Trader perlu memantau rilis Indeks Harga Konsumen AS di hari Jumat yang diperkirakan akan meningkat 2.9% YoY yang merupakan peningkatan tahunan terbesar sejak Februari 2012," kata Sayed.
 
Jika Indeks Harga Konsumen (IHK) AS melampaui acuan 3%, maka dolar berpotensi sangat menguat karena ini berarti Fed tidak memiliki pilihan selain semakin memperketat kebijakan.  
Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, ritel
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top