Ini Strategi Menghadapi Momentum 'New Normal'

Perekonomian Indonesia dan sejumlah negara berkembang lainnya kini tengah memasuki kondisi 'new normal' yang harus diwaspadai baik oleh pemerintah maupun investor.
Tegar Arief | 10 Juli 2018 16:50 WIB
Chief Economist Bahana Sekuritas Budi Hikmat saat memberikan paparan di acara Leaders Day bertema Acuan untuk Cuan, di kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Selasa (5/9). - JIBI/Arif Budisusi

Bisnis.com, JAKARTA -- Perekonomian Indonesia dan sejumlah negara berkembang lainnya kini tengah memasuki kondisi 'new normal' yang harus diwaspadai baik oleh pemerintah maupun investor.

Kondisi 'new normal' sebagai hasil gempuran berbagai faktor eksternal seperti berakhirnya era suku bunga rendah, peningkatan harga energi, penguatan dolar AS, perlambatan ekonomi China hingga konflik geo-politik perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Direktur Strategi dan Kepala Makro ekonomi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menjelaskan, market sebenarnya telah mengantisipasi kenaikan suku bunga the Fed sejalan dengan peningkaan inflasi dan penurunan tingkat pengangguran.

Beragam faktor ketidakpastian eksternal membayangi berbagai upaya untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Terkait dengan penguatan daya beli, Budi mengestimasi terjadi permintaan uang yang melebihi ekspektasi BI menjelang Lebaran.

Menghadapi ketidakpastian dan volatilitas yang terjadi di pasar finansial, Budi mengatakan agar para investor dapat menurunkan ekspektasi investasi. Investor sebaiknya menurunkan ekspektasi imbal karena volatilitas pasar yang tak menentu.

"Pasar obligasi akan lebih menantang sebab valuasinya secara eksternal terakit angka akhir yield T-bond. Sementara potensi kenaikan pasar saham terkait dengan rotasi sektoral yang lebih diuntungkan oleh penguatan dollar, kenaikan harga minyak dan penguatan kualitas infrastruktur serta penguatan daya beli masyarakat," katanya dalam keterangan resmi, Selasa (10/7/2018).

Menurut Budi, pasar obligasi masih tertekan dengan aksi jual investor asing sebagai efek membaiknya perekonomian AS dan penguatan Dollar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dia mengungkapkan, adanya arus modal asing yang keluar dari pasar obligasi sekitar US$600 juta untuk pertama kalinya sejak 8 tahun terakhir. Tahun lalu, pasar obligasi masih mengalami capital inflow sebesar US$12,5 miliar.

Meski demikian, investor lokal dapat mengambil kesempatan untuk berinvestasi di pasar obligasi karena imbal hasil (yield) obligasi semakin tinggi berarti semakin menarik. Dia mencontohkan, jika yield SUN tenor 10 tahun menjadi 8% per tahun..

Artinya, setiap tahun investor akan memperoleh imbal hasil sebesar 8% dalam setahun. Angka ini jelas menarik bagi investor domestik mengingat sangat kecil kemungkinan inflasi per tahun selama 10 tahun mendatang melebihi 8,5%.

Terkait penurunan partisipasi investor asing di pasar modal Indonesia merupakan dampak rebalancing stock pada indeks MSCI. Alokasi untuk emiten Indonesia diturunkan untuk mengantisipasi masukkannya emiten dari Cina.

"Memang ini tantangan bagi pemerintah, mengingat bursa China menawarkan growth selain likuiditas. Itu sebabnya pemerintah harus memacu pertumbuhan. Bila ini berhasil, makan ini merupakan opportunity bagi investor domestik memanfaatkan valuasi yang lebih murah," ujar Budi.

Tag : ekonomi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top