PDB Singapura Melambat di Tengah Perang Dagang AS-China

Perlambatan perekonomian Singapura pada kuartal II/2018 menimbulkan kekhawatiran terhadap outlook ekonomi Negeri Singa, yang mengandalkan ekspor, seiring meningkatnya risiko perang dagang global.
Dwi Nicken Tari | 13 Juli 2018 14:36 WIB
Patung Merlion di Marina Bay, Singapura - Wikimedia Commons

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan perekonomian Singapura pada kuartal II/2018 menimbulkan kekhawatiran terhadap outlook ekonomi Negeri Singa, yang mengandalkan ekspor, seiring meningkatnya risiko perang dagang global.

Berdasarkan data awal yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan Singapura, PDB Singapura tumbuh pada tingkat tahunan yang disesuaikan sebesar 1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Level pertumbuhan itu di bawah median ekonom yang disurvei Bloomberg, yang proyeksinya berada di level 1,3%.

Pertumbuhan PDB kuartalan Singapura ini juga menjadi yang paling lambat sejak kontraksi pada kuartal I/2017. Sementara itu, secara tahunan PDB Singapura tumbuh 3,8% dari tahun sebelumnya, juga di bawah perkiraan ekonom di level 4,1%.

Pertumbuhan ekonomi Singapura, bersama dengan sejumlah besar negara yang bersandar pada ekspor di Asia, dapat melemah lebih lanjut karena ekspor bergerak moderat dan risiko meningkat.

Sebagian besar negara pengekspor di Asia menghadapi ancaman perang tarif, harga minyak yang tinggi, siklus pengetatan kebijakan global, dan apresiasi nilai dolar AS.

Dari sisi domestik Singapira, pengetatan pengawasan properti yang baru-baru ini diberlakukan pemerintah diperkirakan dapat memperlambat pemulihan permintaan konsumen. Selain itu, sektor konstruksi di Singapura pun dapat tertekan lebih dalam lagi.

“Faktor yang menyeret masih datang dari sektor konstruksi,” ujar Selena Ling, Head of Treasury Research and Strategy di Oversea-Chinese Banking Corp., Singapura, seperti dilansir Bloomberg, Jumat (13/7/2018).

Dia melanjutkan pemulihan sebenarnya diharapkan terjadi pada akhir 2018. Namun, dengan beberapa indikator yang mulai mendingin baru-baru ini, khususnya dari sektor perumahan pribadi, dia menjadi tidak yakin akan pemulihan tersebut.

Ravi Menon, Direktur Pelaksana di Otoritas Moneter Singapura, menyebutkan memburuknya tensi perdagangan antara AS dan China dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi global, kendati efeknya saat ini masih terbatas.

Sementara itu, Otoritas Moneter Singapura memperkirakan pertumbuhan Singapura berada di level 2,5%-3,5% untuk tahun ini.

Tag : ekonomi singapura
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top