Laporan dari Singapura: Pertumbuhan Ekonomi Asia 2030 Ditopang 3 Hal

Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat mengatakan IMF memproyeksikan negara kawasan Asia memimpin pertumbuhan global pada tingkat rata-rata 6,4% hingga 2023. Di Asean, pertumbuhan diperkirakan naik dua kali lipat dan menjadi pasar tunggal pada 2030, setelah Uni Eropa, China dan AS.
Rio Sandy Pradana | 13 Juli 2018 14:49 WIB
Perkembangan pembangunan infrastruktur di Jakarta. - Ilustrasi

Bisnis.com, SINGAPURA -- Singapura menilai perkembangan ekonomi Asia pada 2030 bisa ditopang oleh tiga hal, yakni pembiayaan infrastruktur, pembiayaan perusahaan, dan mengadopsi layanan keuangan digital.

Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat mengatakan IMF memproyeksikan negara kawasan Asia memimpin pertumbuhan global pada tingkat rata-rata 6,4% hingga 2023. Di Asean, pertumbuhan diperkirakan naik dua kali lipat dan menjadi pasar tunggal pada 2030, setelah Uni Eropa, China dan AS.

"Terdapat tiga sektor yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan Asia," kata Heng dalam DBS Asian Insights Conference bertema Reimagining Asia 2030, Jumat (13/7/2018).

Dia menjelaskan, pertama pembiayaan infrastruktur. Bagi Asia yang memiliki pertumbuhan tinggi, investasi negara harus menyesuaikan dengan kebutuhan infrastruktur.

Menurutnya, perkembangan infrastruktur dapat membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi, mengangkat potensi jangka panjang kawasan, serta menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik.

Asian Development Bank, imbuhnya, memperkirakan untuk menjaga momentum pertumbuhan Asia, kebutuhan investasi infrastruktur sebanyak US$26 triliun hingga 2030, atau sekitar US$1,7 triliun per tahun. Sumber dana tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi bisa dari pihak swasta.

Kedua, pembiayaan perusahaan. Digitalisasi teknologi digital bisa menjadi katalisator pengembangan model bisnis dan produk inovatif pada banyak sektor.

Dia berpendapat populasi muda dan kelas menengah di Asia yang sedang tumbuh, diiringi dengan peningkatan akses teknologi digital akan menarik banyak perusahaan menyediakan solusi digital untuk memenuhi beragam kebutuhan mereka.

Ketiga, lanjutnya, pengadopsian layanan keuangan digital. Lembaga keuangan dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi melalui adopsi pembayaran daring. "Ini akan memberikan kemudahan bagi konsumen dan bisnis sambil mengurangi biaya transaksi," ujarnya.

Selain itu, kata Heng, penggunaan teknologi dan inovasi dapat membantu untuk memfasilitasi dan memperdalam inklusi keuangan, yang merupakan prioritas utama Asean. Salah satu inisiatif tersebut adalah Asean Financial Innovation Network (AFIN), platform berbasis cloud yang memfasilitasi inovasi dan kolaborasi antara lembaga keuangan dan FinTechs.

Pihaknya berharap, AFIN yang didirikan oleh Asosiasi Bankir Asean dan Korporasi Keuangan Internasional Bank Dunia, akan mempercepat pengadopsian solusi digital dan meningkatkan akses ke layanan keuangan bagi yang kurang terlayani.

Tag : singapura, EKONOMI ASIA
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top