KABAR PASAR 17 JULI: Merpati di Ujung Tanduk, Surplus Juni Jadi Momentum Positif

Berita mengenai nasib PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) serta momentum positif di tengah surplus neraca transaksi perdagangan bulan Juni menjadi berita utama sejumlah media hari ini, Selasa (17/7/2018).
Aprianto Cahyo Nugroho | 17 Juli 2018 08:29 WIB
Pesawat Merpati - Jibi

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai nasib PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) serta momentum positif di tengah surplus neraca transaksi perdagangan bulan Juni menjadi berita utama sejumlah media hari ini, Selasa (17/7/2018).

Berikut ringkasan topik utama di sejumlah media nasional hari ini:

Merpati di Ujung Tanduk. Nasib PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berada di ujung tanduk setelah pemerintah menyatakan urung memberikan kucuran dana segar. Kini, penyelesaian kewajiban Merpati sebesar lebih dari Rp10 triliun masih menjadi tanda tanya. (Bisnis Indonesia)

Surplus Juni Jadi Momentum Positif. Setelah mencatatkan defi sit sebesar US$1,52 miliar pada Mei 2018, neraca transaksi perdagangan Indonesia berbalik surplus pada Juni 2018 sebesar US$1,74 miliar. Perbaikan neraca dagang tersebut diharapkan menjadi momentum perbaikan kinerja ekspor hingga akhir tahun ini. (Bisnis Indonesia)

Banyak Bank Kewalahan Penuhi Target. Beberapa bank mengaku kesulitan memenuhi target kredit usaha mikro kecil dan menengah, karena bisnis inti mereka tidak menyasar segmen tersebut. (Bisnis Indonesia)

Utang Luar Negeri Tumbuh Lambat. Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir Mei 2018 seiring dengan arus dana asing yang keluar dari pasar surat berharga negara. (Bisnis Indonesia)

Jenis Jasa Kena Pajak Bakal Diperluas. Pemerintah berencana memperluas cakupan ekspor jasa kena pajak (JKP) yang dikenakan tarif PPN sebesar 0% dalam rangka mendorong kegiatan ekspor. (Bisnis Indonesia)

Plat Merah Asing Ekspansif di Indonesia. Indonesia adalah sasaran empuk para pemodal asing. Perusahaan sovereign wealth fund yang menjadi kendaraan investasi negara asing membidik investasi di Tanah Air. Kabar terbaru, konglomerasi bisnis milik Kerajaan Thailand, Siam Cement Group (SCG), kembali memperbesar porsi investasinya di Indonesia. (Kontan)

DPR Mulai Menyoal Harga Akuisisi Freeport. Keputusan pemerintah mendorong PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengambilalih 51% saham PT Freeport Indonesia (Freeprot) memantik perdebatan. Utamanya: terkait harga. Banyak yang menilai harga yang harus dibayar untuk menguasai 51% saham Freeport Indonesia senilai US$ 3,85 miliar terlalu mahal. (Kontan)

Juni, Neraca Dagang Surplus US$ 1,74 Miliar. Kinerja perdagangan ekspor impor Indonesia pada Juni melorot tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Hanya saja, penurunan itu dianggap wajar karena sudah jadi tren pasca peak season di Ramadan dan Idulfitri. Apalagi, libur Lebaran Juni lalu sangat panjang. (Kontan)

Utang Luar Negeri Tumbuh Lebih Lambat di Mei 2018. Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir Mei 2018. Menurut catatan Bank Indonesia (BI), ULN Indonesia pada akhir Mei 2018 adalah US$ 358,6 miliar, terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral US$ 182,5 miliar dan utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 176,1 miliar. (Kontan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top