Selain Bansos, Program Pembangunan Lain Belum Berdampak Atasi Kemiskinan

Menurunnya tingkat kemiskinan di Indonesia dinilai berkat program bantuan sosial yang diberikan secara tepat waktu. Sementara itu, program pembangunan lain dirasa belum berdampak maksimal.
Ipak Ayu H Nurcaya | 17 Juli 2018 12:18 WIB
Pekerja membongkar muat beras sejahtera (rastra) triwulan ketiga 2017 untuk warga miskin di Banda Aceh, Aceh, Selasa (8/8). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Menurunnya tingkat kemiskinan di Indonesia dinilai berkat program bantuan sosial yang diberikan secara tepat waktu. Sementara itu, program pembangunan lain dirasa belum berdampak maksimal.

Bantuan sosial pada kuartal I/2018 memang menunjukkan pertumbuhan yang tinggi yakni sebesar 87,6% dibandingkan kuartal I/2017 yang hanya tumbuh 3,39%. 

Kepala Kajian Grup Kemiskinan dan Perlindungan Sosial LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teguh Dartanto menilai data penurunan tingkat kemiskinan dari 10,12% pada September 2017 menjadi 9,82% pada Maret 2018 merupakan angka yang menarik.

Pasalnya, beberapa waktu lalu terjadi inflasi dan kenaikan harga pangan, khususnya beras, yang cukup tinggi.

"Namun, program-program bantuan sosial dan beras sejahtera diberikan tepat pada waktunya sehingga penurunan kemiskinan lebih merupakan diseminasi dari program bantuan sosial dibandingkan program pembangunan lain," katanya, Selasa (17/7/2018).

Hal menarik lainnya adalah meski angkat ketimpangan mengalami penurunan, tapi jika dilihat dari Rasio Gini untuk pedesaan dan perkotaan maka ketimpangan perdesaan justru mengalami kenaikan.

Rasio Gini di perkotaan pada Maret 2018 sebesar 0,401 atau lebih rendah dari posisi September 2017 yang sebesar 0,040. Namun, rasio Gini di perdesaan naik 0,004 poin dari 0,320 pada September 2017 menjadi 0,324 pada Maret 2018.

Hal tersebut diperkirakan karena kontribusi dana desa belum menyentuh kelompok-kelompok paling bawah, melainkan terindiksi hanya berputar-putar di kelas menengah.

Teguh mengingatkan ke depannya pekerjaan akan semakin berat. Sebab, berkaca dari sejumlah negara lain, yang mana jika tingkat kemiskinan mendekati 10% maka penurunan selanjutnya akan melambat. 

Hal utama yang harus dilakukan pemerintah adalah serius mengembangkan program di sektor tenaga kerja.

Program padat karya yang mendorong prokdutivitas masyarakat dinilai sangat berperan menciptakan lapangan pekerjaan atau membuat masyarakat mendapat pekerjaan. Hal ini menjadi mutlak karena stimulan dari pemerintah bukan lagi sekadar bantuan uang tunai atau semacamnya. 

Tak hanya itu, lanjutnya, program Satu Harga BBM juga dinilai memiliki efek yang signifikan terhadap pengentasan kemiskinan, utamanya di kawasan timur Indonesia. Untuk itu, program yang sebelumnya hanya berbau politik ini harus berjalan lebih lanjut dan berkesinambungan. 

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan persentase tingkat kemiskinan di Indonesia pada Maret 2018 adalah 9,82%. Tidak hanya yang terendah sejak 1970, tapi juga terendah sejak metode perhitungan baru pada 1998 dan pelaporan angka kemiskinan diubah pada 2011 menjadi setahun dua kali, yakni tiap Maret dan September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemiskinan

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top