Sentimen Eksternal Masih Jadi Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Semester II/2018

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Reza Hafiz mengatakan tantangan hingga akhir 2018 masih berasal dari eksternal, terutama suku bunga The Fed yang menekan nilai tukar, harga minyak yang melonjak, serta ketidakpastian perang dagang.
Rinaldi Mohammad Azka | 18 Juli 2018 09:20 WIB
Pekerja menggarap bagian atap proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka, Jawa Barat, Rabu (28/3). Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah saat ini mampu menyerap 230 ribu pekerja yang tersebar di 246 proyek infrastruktur. ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengamat menilai tantangan pertumbuhan ekonomi ke depan masih berasal dari sentimen eksternal.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Reza Hafiz mengatakan tantangan hingga akhir 2018 masih berasal dari eksternal, terutama suku bunga The Fed yang menekan nilai tukar, harga minyak yang melonjak, serta ketidakpastian perang dagang.

"Kalau saja struktur ekonomi kita kuat, kita bisa memanfaatkan itu untuk mendorong pertumbuhan. Sayangnya, yang terjadi tidak seperti itu," ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (17/7/2018).

Menurut Reza, efek depresiasi rupiah harusnya bisa dimanfaatkan untuk penetrasi ekspor, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia melanjutkan nilai tambah komoditas ekspor kita masih menengah-rendah dan sangat bergantung harga komoditas internasional.

Di sisi lain, kebutuhan impor bahan baku dan modal masih cukup tinggi pada 2018. Hal ini turut dipengaruhi oleh gencarnya pembangunan infrastruktur. 

Ini juga berarti peningkatan impor bahan baku dan modal tersebut belum tentu diserap oleh industri pengolahan.

Dia melanjutkan hal ini justru menggambarkan pembangunan infrastruktur bergantung pada pasokan dari luar negeri, bukan dalam negeri.

Indef menilai kontribusi net ekspor untuk mendukung pertumbuhan belum maksimal. Padahal, perlu ada dorongan dari kontribusi ekspor di saat tingkat konsumsi rumah tangga stagnan.

Di sisi investasi, mulai terlihat ada perbaikan terutama dari komponen mesin. Tetapi, tentu hal tersebut tidak cukup karena yang diharapkan adalah tingginya pertumbuhan komponen bangunan fisiknya.

"Itu juga menandakan pembangunan infrastruktur dalam jangka pendek belum bisa menggedor pertumbuhan," terang Reza.

Dia mengaku pesimistis pemerintah dapat merealisasikan belanja modal sampai dengan prognosis 95%.

Tag : Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top