Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kendala Perbaikan Defisit Anggaran

Pengamat menilai optimisme pemerintah dalam memproyeksikan defisit anggaran pendapatan belanja negara (APBN) menyusut menjadi 2,12% terhadap PDB dari asumsi awal sebesar 2,19% dihadapkan pada pertumbuhan ekonomi yang tersendat.
Rinaldi Mohammad Azka | 18 Juli 2018 14:28 WIB
Pertumbuhan - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat menilai optimisme pemerintah dalam memproyeksikan defisit anggaran pendapatan belanja negara (APBN) menyusut menjadi 2,12% terhadap PDB dari asumsi awal sebesar 2,19% dihadapkan pada pertumbuhan ekonomi yang tersendat.

Pieter Abdullah Redjalam, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) melihat optimisme ini dibayangi terget pertumbuhan ekonomi yang tidak akan sesuai target.

"Dari sisi penerimaan pajak ini ada risiko dari faktor tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi. Kita tahu bahwa perhitungan penerimaan negara termasuk pajak didasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%, sehingga target ini besar kemungkinan tidak tercapai," jelasnya kepada Bisnis, Rabu (18/7/2018).

Dia menyimpulkan dengan begitu penerimaan negara terutama dari pajak sulit mencapai 100%. Di sisi lain, belanja juga akan sangat besar kemungkinannya melonjak karena harga minyak yang jauh di atas asumsi. Walaupun, memang dalam prognosa pemerintah belanja subsidi sudah diperhitungkan naik hingga 173%.

Pieter juga menyoroti anggaran bantuan sosial (bansos) yang pada tahun politik ini membengkak cukup besar.

"Dengan tidak tercapainya penerimaan, sementara belanja kemungkinan membengkak, saya memperkirakan sangat sulit pemerintah menurunkan angka defisit," jelasnya.

Pieter melihat optimisme pemerintah beralasan. Dia menilai pascapengampunan pajak, tren ketaatan pajak memang meningkat, ditambah lagi pemerintah memiliki data pembayar pajak yang lengkap

"Pemerintah mendasarkan keyakinannya dari penerimaan pajak yang mendekati rencana dalam APBN 2018, sampai dengan semester satu penerimaan pajak sudah di atas 40% dan diperkirakan bisa memenuhi seluruh target penerimaan negara," ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (18/7/2018).

Direktur Eksekutif Core, Mohammad Faisal, membenarkan perkiraan Pieter, penyusutan defisit ini sulit dicapai.

Dia lebih menyoroti faktor penyebab peningkatan realisasi penerimaan negara. Menurutnya, peningkatan penerimaan ini disebabkan oleh faktor eksternal daripada internal.

"Terutama akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah," imbuhnya.

Kenaikan ICP dan pelemahan nilai tukar sebenarnya berdampak pada peningkatan baik penerimaan maupun belanja, tetapi dampak pada peningkatan penerimaan lebih besar daripada thd peningkatan belanja, sehingga mengakibatkan surplus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top