AS Tidak Akan Berunding Dengan China di Pertemuan G20 Pekan Ini

Departemen Keuangan AS mengumumkan bahwa Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin tidak memiliki jadwal untuk bertemu dengan pejabat China secara formal di dalam pertemuan kelompok 20 (G20) yang berlangsung akhir pekan ini di Argentina.
Dwi Nicken Tari | 18 Juli 2018 14:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Departemen Keuangan AS mengumumkan bahwa Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin tidak memiliki jadwal untuk bertemu dengan pejabat China secara formal di dalam pertemuan kelompok 20 (G20) yang berlangsung akhir pekan ini di Argentina.

Pejabat Departemen Keuangan (Depkeu) AS menjelaskan Mnuchin hanya memiliki kesempatan untuk berdiskusi dengan China secara informal di sela-sela pertemuan antar menteri keuangan dan bank sentral negara-negara G20 tersebut.

“Menteri [Mnuchin] telah melakukan kontak substansial dengan pejabat China, sehingga tidak ada keharusan untuk mengadakan pertemuan bilateral di dalam pertemuan [G20],” ujar pejabat tersebut, seperti dilansir Reuters, Rabu (18/7/2018).

Pekan lalu, Mnuchin menyampaikan kepada para pembuat kebijakan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan untuk kembali berunding dengan China terkait isu perdagangan. Namun, dia menegaskan perundingan itu hanya akan terealisasi jika China memperlihatkan upaya yang serius untuk melakukan perubahan struktural di dalam kebijakan ekonominya.

Sejauh ini, baik AS maupun China telah memberlakukan tarif sebesar 25% untuk produk impor masing-masing negara senilai US$34 miliar. Selain itu, pemerintahan Trump juga telah menyiapkan tarif yang jumlahnya mencapai seluruh nilai impor China ke AS jika Negeri Panda tidak juga mengubah kebijakannya terkait kekayaan intelektual dan subsidi industri berteknologi tinggi.

Pejabat Depkeu AS tadi melanjutkan Mnuchin justru akan berdiskusi dengan mitra negara kelompok 7 (G7) terkait praktik perdagangan China di dalam diskusi selama satu jam di dalam pertemuan G20 tersebut.

“Negara-negara G7 akan berdiskusi dan menemukan dasar-dasar umum untuk menghadapi praktik perdagangan China,” tuturnya.

Sementara itu, dalam pekembangan terpisah, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker akan bertolak ke Washington, AS pada pekan depan untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump.

Menurut dua sumber yang enggan disebutkan identitasnya, Juncker akan mengupayakan perundingan untuk membahas pengurangan tarif impor mobil dengan AS.

Selain itu, dia juga akan mengangkat kembali diskusi mengenai tarif baja dan aluminium yang telah diberlakukan AS sebelum Uni Eropa (UE) membalas tarif tersebut dengan menargetkan produk impor asal AS dengan nilai US$3,3 miliar.

“Juncker akan memberikan sinyal bahwa UE memiliki keinginan untuk mempertimbangkan kesepakatan plurilateral dengan tujuan mendapat pengurangan tarif impor mobil,” kata seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya, seperti dilansir Bloomberg.

Kesepakatan plurilateral itu berpotensi mengubah tren industri otomotif dan proses finalisasinya juga akan memakan waktu. Oleh karena itu, sumber tadi menambahkan bahwa mereka tidak terlalu optimistis bahwa Trump akan menerima penawaran tersebut.

Selain itu, UE juga ingin meminta bukti dari AS mengenai ancaman keamanan nasional yang dibawa oleh impor mobil dan komponen otomotif dari Eropa. Pasalnya, UE tengah berada di bawah ancaman proposal Trump yang akan mengenakan tarif sebesar 20% untuk impor otomotif dari Benua Biru.

“Presiden Juncker dan Presiden Trump akan fokus untuk meningkatkan perdagangan trans-Atlantik dan memperkuat kemitraan ekonomi,” tulis Komisi Eropa melalui pernyataan resminya.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top