BNI Tak Berminat Biayai Akuisisi Freeport, Kenapa?

PT Bank Negara Indonesia (Perseroan) Tbk. menilai menyalurkan pembiayaan untuk divestasi saham PT Freeport Indonesia kurang menarik. Pasalnya, perseroan harus bersaing dengan bank asing yang menawarkan suku bunga kredit lebih rendah.
Muhammad Khadafi | 18 Juli 2018 19:44 WIB
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk Achmad Baiquni (kanan) memberikan penjelasan mengenai kinerja perusahaan, seusai RUPS, di Jakarta, Selasa (20/3/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Perseroan) Tbk. menilai menyalurkan pembiayaan untuk divestasi saham PT Freeport Indonesia kurang menarik. Pasalnya, perseroan harus bersaing dengan bank asing yang menawarkan suku bunga kredit lebih rendah.

“Kalau lihat kondisinya, kami yakin untuk bersaing suku bunga [dengan bank asing] agak berat,” kata Direktur Utama BNI Achmad Baiquni usai paparan kinerja semester I/2018 di Jakarta, Rabu (18/7/2018).

Baiquni menjelaskan bahwa BNI tidak memiliki kewajiban untuk menyalurkan kredit kepada PT Inalum (Persero) selaku induk holding badan usaha milik negara (BUMN) tambang. Meskipun keduanya adalah perusahaan pelat merah, tetapi pertimbangan bisnis tetap menjadi yang utama.

“Hanya karena semangat sinergi BUMN biasanya mereka prioritaskan kami, tapi ujungnya juga pertimbangan cost,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa bank asing menawarkan suku bunga kredit sebesar 4%. Angka itu sulit untuk disaingi oleh BNI. Selain itu BNI juga mempertimbangkan mata uang dolar AS yang terbatas. 

Menurutnya, BNI masih memiliki potensi untuk menyalurkan kredit dengan suku bunga lebih menarik. Ekonomi makro dalam negeri semakin membaik, sehingga peluang menyalurkan pembiayaan ke sektor korporasi besar hingga kecil terbuka lebar.

Adapun seperti diberitakan Bisnis, Rabu (18/7/2018), divestasi saham PT Freeport Indonesia mendekati final, tetapi tahapan penyelesaian transaksi masih berliku. PT Inalum, Rio Tinto, Freeport—McMoRan Inc, dan Pemerintah Indonesia masih harus menempuh sejumlah negosiasi lanjutan.

Pembahasan tersebut adalah lanjutan dari penandatanganan HoA antara Inalum dengan Freeport-McMoran yang menjadi dasar kesepakatan divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia. Nilai transaksi akan mencapai US$3,85 miliar.

Sebelumnya Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menjelaskan nilai transaski yang disepakati tersebut terdiri dari hak partisipasi (participating interest/PI) Rio Tinto di Freeport Indonesia sebesar 40% yang dikonversi menjadi saham dan 100% saham PT Indocoper Investasma yang seluruh sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan.

Budi mengungkapkan ada 11 bank yang siap membantu mendanai transaksi divestasi tersebut. Dia mengatakan masih mendiskusikan berapa porsi pendanaan dari bank dan ekuitas. Dana yang dibutuhkan Inalum US$2,7 miliar.

Tag : bni
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top