PELEMAHAN RUPIAH: BI Ingatkan Jangan Panik

Bank sentral Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi pada Jumat (20/7/2018) hanya sebuah dinamika pasar.
Hadijah Alaydrus | 20 Juli 2018 17:21 WIB
Petugas memindahkan uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank sentral Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi pada Jumat (20/7/2018) hanya sebuah dinamika pasar.

Nilai tukar rupiah berakhir melemah 53 poin atau 0,37% ke level Rp14.495 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengimbau agar semua pihak tidak panik. Dia menegaskan BI tetap berupaya melakukan stabilisasi di pasar.

"Itu dinamika pasar, tidak perlu panik, melemahnya [rupiah] hari ini hanya 0,03%," ungkap Nanang, Jumat (20/7).

Jika dibandingkan dengan penutupan Kamis (19/7) yang sebesar Rp14.470-Rp14.480 per dolar AS, pelemahannya hanya sekitar Rp5.

Pada jeda siang hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot sempat melemah 103 poin atau 0,71% ke level Rp14.545 per dolar AS.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan rupiah tercatat Rp14.405 per dolar AS pada Rabu (18/7), melemah 0,52% (ptp) dibandingkan dengan level akhir Juni 2018.

Dengan perkembangan itu, rupiah telah melemah 5,81% secara year-to-date (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2017 atau lebih rendah dibandingkan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lain seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brasil, dan Turki.

"Ke depan, BI terus mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, serta menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan," jelasnya, Kamis (19/7).

Kebijakan BI pun akan tetap ditopang oleh strategi intervensi ganda dan strategi operasi moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang rupiah dan pasar swap antarbank.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top