Suku Bunga Naik & Dolar AS Kuat. Trump: “Saya Tidak Happy”

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengomentari miring kebijakan suku bunga The Fed. Rupanya Trump justru tidak merasa antusias dengan kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 20 Juli 2018 08:33 WIB
PM Kanada Justin Trudeau saat berbincang dengan Presiden Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih 13 Februari 2017. - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengomentari kebijakan suku bunga The Fed. Rupanya Trump justru tidak merasa antusias dengan kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS.

Padahal, sebagian besar ekonom percaya jika tingkat inflasi tertinggi dalam tujuh tahun dan pengangguran terendah dalam 40 tahun memberi alasan bagi kenaikan suku bunga AS beserta penguatan dolar AS akhir-akhir ini.

Namun, Trump malah khawatir mengenai potensi dampak kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS terhadap ekonomi Negeri Paman Sam dan daya saing perusahaan Amerika.

“Saya tidak senang. Karena [suku bunga] naik dan setiap kali naik, mereka [The Fed] ingin menaikkan suku bunga lagi. Saya tidak gembira tentang hal ini. Tetapi pada saat yang sama saya membiarkan mereka melakukan apa yang mereka pikir baik dilakukan,” tutur Trump dalam wawancara di CNBC, seperti dikutip Reuters.

“Saya tidak menyukai semua hal yang kami lakukan pada ekonomi dan kemudian saya melihat suku bunga naik,” katanya.

Trump mengungkapkan kekhawatirannya jika mata uang China melemah dan dolar AS yang kuat menempatkan AS pada posisi yang kurang menguntungkan. Imbal hasil utang Treasury AS pun turun dan dolar AS tergelincir dari level tertingginya menyusul komentar Trump tersebut.

Setelah era suku bunga rendah selama lebih dari enam tahun yang membantu perekonomian AS pulih dari krisis keuangan 2008, The Fed secara perlahan mulai menaikkan suku bunga kembali pada Desember 2015. Sejak Trump resmi menjabat pada Januari 2017, bank sentral AS ini telah melakukan penaikan suku bunga sebanyak lima kali.

The Fed terakhir kali menaikkan biaya pinjaman pada Juni tahun ini. Dalam testimoninya di depan Kongres AS pekan ini, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengulangi pandangannya bahwa suku bunga akan terus meningkat perlahan-lahan.

Hal ini mengingat tingkat pengangguran berada di titik terendah sejak 1960-an dan inflasi harga konsumen mencapai 2,9% secara tahunan pada bulan Juni.

Para pembuat kebijakan The Fed pun memproyeksikan dua kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini dan tiga kali kenaikan pada 2019.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS yang stabil di sekitar 2,0% pada kuartal pertama tahun ini berikut meningkatnya suku bunga, saat European Central Bank dan Bank of Japan mempertahankan suku bunga mereka tetap rendah, telah membantu dolar AS naik ke level tertinggi dalam setahun pada Juli.

Tak Peduli

Ini bukan pertama kalinya Trump menyimpang dari kebiasaan seorang Presiden AS untuk menghormati kebebasan Federal Reserve, dengan tidak berkomentar mengenai suku bunga atau nilai dolar AS. Namun, Trump tak peduli.

“Sekarang saya hanya mengatakan hal sama yang akan saya katakan sebagai warga negara,” kata Trump. “Seseorang bisa berkata, 'Oh, mungkin Anda tidak boleh mengatakan itu sebagai presiden.' Saya tidak peduli apa yang mereka katakan karena pandangan saya belum berubah.”

Dalam sebuah pernyataan, pihak Gedung Putih buru-buru menyatakan bahwa Trump menghormati kebebasan The Fed dan tidak ikut campur dengan keputusan kebijakan bank sentral AS tersebut.

Trump mencalonkan Powell sebagai Gubernur The Fed menggantikan Janet Yellen yang pensiun pada bulan Februari. Trump pribadi menyebut Powell sebagai seorang yang sangat baik.

Berulang kali Trump mengklaim bahwa kebijakannya, terutama pemangkasan pajak yang ditetapkan oleh Kongres AS Desember lalu, telah menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Tetapi, sebagian besar ekonom memberi kredit kepada The Fed yang mengupayakan pemulihan ekonomi AS sejak tahun 2010, bahkan saat ini mencatat rekor ekspansi ekonomi terpanjang kedua, dengan mempertahankan suku bunga di level terendah secara historis serta membeli kembali utang Treasury AS untuk menyuntikkan likuiditas ke dalam pasar.

"Pernyataannya [Trump] tidak masuk akal bagi saya," kata Mike Lorizio, head of Treasuries di Manulife Asset Management. "Perekonomian telah berada di pijakan terkuat dalam beberapa waktu."

Menurut Michael O'Rourke, chief market strategist di Jones Trading, Connecticut, hal yang memicu penguatan dolar adalah kekuatan ekonomi AS.

“Kami melihat pertumbuhan PDB 4,0% untuk kuartal kedua, tingkat pengangguran di rekor terendah, angka klaim pengangguran awal di level terendah dalam 50 tahun, dan inflasi di atas target resmi," kata O'Rourke.

Para ekonom sebaliknya mengatakan, risiko terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Amerika adalah kebijakan Trump sendiri, terutama pengenaan tarif impornya pada China dan Eropa serta sejumlah negara sekutu seperti Meksiko dan Kanada.

Perusahaan-perusahaan Amerika dapat merasa kurang mampu bersaing secara global karena tarif impor berkontribusi terhadap kenaikan biaya input, sekaligus memaksa mereka untuk menaikkan harga atau menurunkan margin keuntungan.

Namun, banyak analis meragukan jika komentar Trump akan berdampak banyak pada kebijakan Federal Reserve atau pasar.

"Saya kira ini bukan indikasi tindakan tertunda dari pemerintahan [Trump] yang akan membatasi kekuasaan Fed,” kata Thomas Simons, ekonom pasar uang di Jefferies, New York.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed, Donald Trump

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top