Biaya Energi Meningkat, Inflasi Jepang Naik Tipis pada Bulan Juni

Inflasi di Jepang meningkat tipis pada bulan Juni, sebagian besar karena biaya energi yang lebih tinggi. Namu, tanda-tanda kenaikan percepatan inflasi menuju target 2% belum terlihat dalam waktu dekat.
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 Juli 2018 09:45 WIB
Tsukiji Fish Market di Jepang - Bisnis/Martin Sihombing

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi di Jepang meningkat tipis pada bulan Juni, sebagian besar karena biaya energi yang lebih tinggi. Namun, tanda-tanda kenaikan percepatan inflasi menuju target 2% belum terlihat dalam waktu dekat.

Biro Statistik Jepang mencatat indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) inti, yang tidak termasuk makanan segar, naik 0,8% pada bulan Juni dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini sejalan dengan estimasi analis dalam survei Bloomberg.

Sementara itu, tingkat inflasi secara keseluruhan meningkat 0,7% pada Juni dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, sedikit lebih rendah dari perkiraan analis sebesar 0,8%.

Dilansir Bloomberg, meredanya laju inflasi telah mengurangi spekulasi bahwa Bank of Japan mungkin mulai mengetatkan kebijakan moneternya yang sangat longgar,. Meskipun program pengendalian kurva imbal hasil dari BOJ telah dapat mengurangi kembali tekanan pada pembelian obligasi, kebijakan moneter tersebut merugikan profitabilitas bank komersial dan pasar. Tanpa kenaikan harga energi, gambaran laju inflasi akan terlihat lesu.

Investor menanti petunjuk kebijakan BOJ berikutnya pada 31 Juli, ketika pada pembuat kebijakan memberikan perkiraan terbaru tentang harga dan pertumbuhan ekonomi. Para ekonom dan investor swasta mempertanyakan pernyataan BOJ bahwa momentum inflasi telah dipertahankan.

"Angka-angka inflasi bulan Juni terbaru ini akan menjadi pemecah hati rencana Bank of Japan," ungkap Izumi Devalier, kepala ekonomi Jepang di Bank of America Merrill Lynch, seperti dikutip Bloomberg.

"Pasar tenaga kerja terus ketat dan itu tidak menghasilkan tekanan inflasi yang berarti. Saya pikir itu bisa berpotensi jatuh lebih jauh, tetapi masalah utama di sini adalah bahwa meskipun kenaikan dalam biaya upah dan adanya tekanan biaya, ekspektasi inflasi di antara korporasi masih sangat lemah,” lanjutnya.

Sementara itu, Junko Nishioka, kepala ekonom di Sumitomo Mitsui Banking Corp, mengatakan kenaikan harga minyak mentah kemungkinan akan membantu inflasi Jepang tetapi kenaikan harga bensin dapat mulai menekan tingkat konsumsi.

Tag : ekonomi jepang
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top