Target Inflasi BOJ Diperkirakan Baru Tercapai 3 Tahun Lagi

Pertumbuhan inflasi inti Jepang menguat pada Juni 2018, ditopang meningkatnya harga minyak mentah baru-baru ini. Tetapi, harga barang-barang lainnya masih kesulitan untuk naik dan membuat bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) semakin kesulitan mencapai target inflasi 2%.
Dwi Nicken Tari | 20 Juli 2018 12:56 WIB
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA -- Pertumbuhan inflasi inti Jepang menguat pada Juni 2018, ditopang meningkatnya harga minyak mentah baru-baru ini.

Tetapi, harga barang-barang lainnya masih kesulitan untuk naik dan membuat bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) semakin kesulitan mencapai target inflasi 2%.

Menurut data yang dikeluarkan Biro Statistik Jepang, indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI), yang menghitung harga minyak mentah tapi mengecualikan harga volatil makanan segar, menguat ke level 0,8% pada Juni 2018 ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian itu sesuai dengan perkiraan pasar dan melanjutkan penguatan pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,7%.

Sementara itu, indeks CPI inti (perhitungannya mengecualikan harga produk energi dan makanan), yang digunakan BOJ untuk mengukur tingkat inflasi, mengalami pelemahan ke level 0,2% pada Juni 2018 dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,3%.

Hal itu pun memberikan sinyal bahwa tingkat konsumsi di Negeri Sakura masih rendah, sehingga upaya perusahaan untuk menaikkan harga barang mentah dan harga buruh untuk rumah tangga pun terus terhambat.

Analis menilai data tersebut membuat pasar berekspektasi bahwa BOJ akan memangkas perkiraan inflasinya di dalam rapat kebijakan pada 30-31 Juli 2018.

"Data tersebut pasti membuat BOJ kecewa karena kenaikan tingkat inflasi sebagian besar karena harga produk energi, sementara harga barang-barang lain tidak begitu naik," kata Yoshiki Shinke, Kepala Ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, seperti dilansir Reuters, Jumat (20/7/2018).

Dia menjelaskan tingkat konsumsi yang tidak begitu kuat membuat perusahaan kesulitan menaikkan harga produk. Sementara itu, lanjutnya, BOJ tidak mungkin melonggarkan kebijakannya lagi karena rintangan untuk meredam stimulus sudah sangat tinggi.

"Kami mungkin tidak akan melihat kenaikan inflasi inti ke depannya," kata pejabat pemerintah Jepang di dalam sebuah media briefing.

Para pejabat BOJ akan melakukan analisis menyeluruh di dalam rapat kebijakan Juli 2018 mengenai alasan inflasi terus berada di level terendahnya. Sebelumnya, inflasi konsumen inti telah melemah untuk bulan kedua berturut-turut pada April 2018 sebelum bergerak mendatar pada Mei 2018.

Menurut sumber yang enggan disebutkan identitasnya, di dalam rapat tersebut BOJ mungkin bakal menyerah dengan membiarkan inflasi terus berada di bawah targetnya setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Hal itu akan menjadi sinyal terkuat dari BOJ bahwa target inflasi tidak akan tercapai dalam waktu dekat.

Ini juga sesuai dengan hasil survei yang dilakukan Reuters, bahwa lebih dari 40% pebisnis di Jepang yakin target inflasi bank sentral akan tercapai setidaknya tiga tahun lagi. Sementara itu, 40% lainnya menyatakan target tersebut mustahil tercapai.

Sementara itu, beberapa analis menilai inflasi akan terus bergelayut di level 1% dalam beberapa bulan ke depan sebelum melemah pada Oktober 2019 karena ada peningkatan pajak penjualan yang diperkirakan bakal merusak selera konsumsi.

"Kami memperkirakan inflasi akan naik ke 1% hingga akhir tahun," kata Marcel Thieliant, Ekonom Senior di Capital Economics.

Kendati demikian, tuturnya, pengeluaran konsumen akan tergerus ketika pajak dinaikkan dan tekanan harga akan bergerak moderat lagi. Oleh karena itu, target inflasi BOJ akan tetap sulit tercapai. 

Tag : ekonomi jepang
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top