BI Ragu dengan Pertumbuhan Ekonomi, Rupiah pun Ikut Loyo

Pelemahan kurs rupiah hari ini, Jumat (20/7/2018), disebabkan oleh pernyataan BI yang menegaskan proyeksi pertumbuhan ekonominya ke batas bawah kisaran asumsinya 5,1%-5,5%.
Hadijah Alaydrus | 20 Juli 2018 19:04 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (ketiga kanan) menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 Juli 2018 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/7). - Bisnis/Hadijah Alaydrus

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan kurs rupiah hari ini, Jumat (20/7/2018), disebabkan oleh pernyataan BI yang menegaskan proyeksi pertumbuhan ekonominya ke batas bawah kisaran asumsinya 5,1%-5,5%. 

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan sentimen BI dinilai berubah pesimis dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur 18-19 Juli 2018, padahal BI biasanya akan menjaga ekspektasi pasar dengan 'tone' yang positif. 

"Namun, RDG (Rapat Dewan Gubernur)  kemarin membuktikan sebaliknya," ungkap Bhima, Jumat (20/7/2018). 

Dia menilai BI yang menahan bunga acuan di 5,25% juga menjadi isyarat bahwa utak-atik kebijakan moneter ada batasnya. Saat ini, ruang pengetatan moneter masih ada, setidaknya satu kali lagi. 

"Kemungkinan berikutnya BI sedang menunggu fenomena super dolar memuncak pada pertengahan semester II sehingga 7DRR mungkin dinaikkan lagi 25 bps," ungkap Bhima. 

Dolar AS diprediksi akan naik ke titik tertingginya pada bulan September atau Oktober. Saat itu, Bhima menilai tekanan kurs rupiah akan membesar. 

Faktor lainnya adalah prediksi perang dagang akan semakin memburuk. Pasalnya, konsensus AS-China belum juga tercapai. 

Padahal, awalnya, perang dagang diprediksi tidak akan berlangsung lama. 

Solusi utama untuk menghadapi kondisi ini, Bhima berharap pemerintah dan BI terus mengeratkan koordinasi.

"Misalnya dari sisi fiskal, memberi insentif keringanan PPh badan dan bea keluar untuk industrii berorientasi ekspor," ujar Bhima. 

Kemudian, dia menilai perbaikan infrastruktur harus diarahkan untuk terus mendukung pariwisata agar pemasukan devisa semakin besar. 

"Jadi moneter dan fiskal saling support," tegasnya. 

Sejauh ini, dia menilai BI dari sisi moneter telah 'jor-joran' naikkan bunga acuan, tapi dari fiskal belum ada gebrakan.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top