Pemerintah Dituntut 'Ngerem' Impor Bahan Baku

Upaya mengerem impor bahan baku harus segera digulirkan pemerintah guna mewaspadai kemungkinan eskalasi perang dagang yang mengarah pada competitive devaluation.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 25 Juli 2018  |  09:22 WIB
Pemerintah Dituntut 'Ngerem' Impor Bahan Baku
KM Gunung tengah melakukan bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal buatan galangan Meyer Werft, Jerman ini bisa mengangkut 98 TEUs kontainer di samping mengangkut penumpang. - JIBI/Rivki Maulana

Bisnis.com, JAKARTA -- Upaya mengerem impor bahan baku harus segera digulirkan pemerintah guna mewaspadai kemungkinan eskalasi perang dagang yang mengarah pada competitive devaluation.

Pengamat ekonomi dari ADB Institute Eric Sugandi mengungkapkan perang dagang yang dilancarkan via penetapan tarif ataupun competitive devaluation akan berdampak buruk pada perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Salah satu solusi untuk mengurangi tekanan dari competitive devaluation atau devaluasi nilai tukar untuk mendongkrak daya saing adalah dengan menjaga defisit transaksi berjalan.

"Untuk membantu menjaga agar defisit neraca transaksi berjalan tidak membengkak, pemerintah bisa melakukan evaluasi proyek infrastruktur," ujarnya, Selasa (24/7/2018).

Impor bahan baku dan barang penolong untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur tercatat mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga Juni 2018, yakni naik 14,56% secara year-on-year (yoy) dengan andil 75,58% dari total impor.

Menurut Eric, pemerintah dapat menyeleksi proyek-proyek skala prioritas dengan skala rendah untuk ditunda pembangunannya agar importasi barang modal dan bahan baku dapat direm.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah menilai agar Indonesia tidak ngotot menahan pelemahan rupiah dengan mengorbankan semua cadangan devisa ataupun menaikkan suku bunga setinggi-tingginya.

"Namun, tidak juga membiarkan rupiah selemah-lemahnya," tegasnya.

Sementara itu, ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual mengatakan pembatasan impor memang menjadi solusi dalam menghadapi kondisi ini. Pembatasan impor konsumsi bisa dilakukan terlebih dahulu mengingat impor bahan baku sulit dibatasi karena 80% produksi industri di dalam negeri masih bertumpu pada komponen dari luar negeri.

"Impor konsumsi harus diseleksi betul dan ada substitusinya," terangnya.

Seperti diketahui, upaya China merelaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) terus melemahkan renminbi. Langkah pelemahan mata uang yang dilakukan China dengan sengaja tersebut mendorong mata uang negara lain terdepresiasi.

Sejak 1 Mei 2018, rupiah telah terdepresiasi 4,48%, lebih baik dibandingkan lira Turki yang turun 13,86%, peso Argentina 25,62% dan won Korea 5,9%, serta baht Thailand sebesar 5,77%.

Sementara itu, pada periode yang sama, mata uang negara maju juga mengalami pelemahan. Dolar Kanada terdepresiasi 2,39%, krone Denmark 2,99%, dolar Selandia Baru sebesar 3,37%, poundsterling sebesar 4,48%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
impor bahan baku, perang dagang AS vs China

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top