BI Sodorkan 5 Strategi Pengembangan Ekonomi Syariah

Bank Indonesia mendorong lima strategi pengembangan ekonomi syariah Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lain.
Hadijah Alaydrus | 25 Juli 2018 16:46 WIB
Pengunjung bertransaksi di gerai ritel Podjok Halal, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (5/12). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia mendorong lima strategi pengembangan ekonomi syariah Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lain.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan dibutuhkan strategi khusus agar Indonesia bisa sukses menyaingi negara lain yang telah lebih dulu menguasai pasar industri halal global.

Dia mencontohkan Australia telah dikenal sebagai produsen daging halal, sedangkan Thailand menjadi eksportir bumbu halal. Tidak ketinggalan, Jepang mulai mengembangkan pariwisata dan kuliner halal.

"Apakah kita tidak sedih dan prihatin? Kita hanya sebagai importir dan pengguna produk halal," ujar Perry di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rabu (25/7/2018).

Melihat kondisi ini, dia menyampaikan lima strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan ekonomi syariah Indonesia.

Pertama, pengembangan ekonomi syariah membutuhkan dukungan pemerintah. Bank sentral Indonesia meyakini Presiden Joko Widodo memberikan dukungan penuh.

Kedua, pengembangan ekonomi syariah harus dicanangkan sebagai program nasional. Ketiga, pembentukan badan khusus yang mengkoordinasikan ekonomi syariah.

Keempat, fokus kepada sektor yang mendatangkan manfaat kompetitif, seperti makanan halal atau pakaian muslim dan halal serta farmasi dan keuangan syariah. Jka dikembangkan, sektor-sektor ini dapat menjadi sumber devisa keuangan.

"Kenapa makanan halal? Karena kita konsumen terbesar dan sumber daya ada ada, tinggal memproses," tutur Perry.

Kelima, diperlukan strategi nasional keuangan syariah. Semua rencana masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan badan lainnya harus dikumpulkan menjadi satu.

"Tidak masalah itu menjadi milik siapa yang penting dikerjakan bersama," tegasnya.

Mengacu pada data Global Islamic Economy (GIE) Report 2017/2018, pengeluaran masyarakat muslim dunia terhadap pakaian muslim mencapai US$254 miliar pada 2016 atau setara dengan Rp3.537,7 triliun. Nilainya diproyeksi meningkat menjadi US$373 miliar pada 2022, sekitar Rp5.195,13 triliun. 

Sementara itu, nilai industri mamin halal global pada 2016 sekitar US$1.245 miliar dan diperkirakan tumbuh menjadi US$1.930 miliar pada 2022.

Industri kosmetika halal berkisar US$57 miliar pada 2016 dan diprediksi naik menjadi US$82 miliar pada 2022. Adapun nilai industri farmasi halal sebesar US$83 miliar pada 2016 dan diproyeksi meningkat menjadi US$132 miliar pada 2022.

Sementara itu, nilai industri pasar finansial syariah mencapai US$2.202 miliar pada 2016 dan diperkirakan tumbuh menjadi US$3.782 pada 2022. Di sisi lain, nilai industri perbankan komersial syariah sebesar US$1.599 pada 2016 dan diprediksi naik menjadi US$2.439 miliar pada 2022. 

Dari sektor-sektor itu, Indonesia hanya masuk daftar 10 besar di kategori kosmetika dan farmasi halal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
syariah, ekonomi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top