Penting, Atur Keuangan Setelah Menikah

Sayangnya, masih banyak pasangan yang belum tahu apa saja urutan prioritas keuangan bagi keluarga baru supaya kehidupan setelah pernikahan lebih menyenangkan.
Asteria Desi Kartika Sari | 30 Juli 2018 08:32 WIB
Ilustrasi solusi teknologi finansial - flickr

Pernikahan bisa menjadi bagian yang menyenangkan untuk beberapa orang. Terlebih, pernikahan merupakan pengalaman yang baru bagi yang terbiasa hidup sendiri dan kemudian hidup berdua dengan pasangan.

Upacara pernikahan dan resepsi pun sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh kedua belah pihak, mulai dari bujet, tempat, katering, hingga undangan yang akan disebar.

Selesai acara puncak pernikahan bukan berarti perencanaan keuangan selesai, justru inilah awal bagi pasangan keluarga baru untuk semakin mendisiplinkan bujet. Sayangnya, masih banyak pasangan yang belum tahu apa saja urutan prioritas keuangan bagi keluarga baru supaya kehidupan setelah pernikahan lebih menyenangkan.

Manjemen keuangan keluarga yang baik juga dapat membantu untuk mengatur rencana jangka pendek dan panjang. Hal ini termasuk kapan Anda dan pasangan berencana untuk membeli rumah, memiliki anak, tabungan demi kebutuhan buah hati, sampai dengan simpanan hari tua.

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan hal utama yang perlu dilakukan oleh pasangan keluarga baru adalah pemahaman bersama dan mau kompromi. Pasalnya, Anda dan juga pasangan tentu memiliki perbedaan, termasuk dalam mengatur keuangan.

“Pasti butuh kebiasaan dulu bagaimana pengelolaan keuangan yang diinginkan, yang cocok seperti apa, misalnya apakah gaji suami semua diberi ke istri atau sebagian,” kata Tejasari.

Oleh karena itu, lanjutnya, yang paling baik adalah duduk bersama untuk menghitung berapa kemungkinan pengeluaran yang dibutuhkan setiap bulannya. Untuk itu, dia menyarankan agar saling terbuka terkait dengan penghasilan masing-masing untuk mencapai kesepakatan dalam merecanakan tujuan keuangan keluarga.

Apalagi, kebutuhan berkeluarga akan lebih kompleks seperti biaya kehamilan dan kelahiran, pendidikan anak, asuransi keluarga, sampai dengan dana pensiun.

Menurut Tejasari, kedua pihak harus bersama-sama menghitung atau menentukan kebutuhan untuk mengawasi seberapa besar pengeluaran setiap bulan. Hitungan ini dapat dimanfaatkan untuk melihat apakah ada pengeluaran yang sebetulnya bisa dipotong untuk menekan pengeluaran. Selain itu, agar bisa melakukan penyesuaian antara pemasukan dengan pengeluaran.

Langkah selanjutnya adalah menentukan rekening siapa yang dipakai untuk apa. Misalnya rekening suami digunakan untuk mengelola tagihan KPR, atau kredit yang lainnya. Masing-masing harus bertanggung jawab supaya kondisi keuangan bersama tetap aman.

Jumlah pengeluaran membutuhkan sumber dana untuk membiayainya. Apabila hanya satu orang yang bekerja tentunya tugas selanjutnya membagi uang yang dimiliki sesuai dengan nominal yang disepakati. Apabila pasangan sama-sama bekerja tentukan gaji siapa digunakan untuk membiayai pengeluaran apa saja. Meski pada akhirnya satu orang yang akan mengatur, paling tidak sudah dibicarakan terlebih dahulu.

“Bikin pembagian sama-sama, kira-kira suami mau kasih bujet berapa, istri berapa, kalau bisa bikin rekening bersama,” katanya.

Perencana keuangan Irshad Wicaksono Ma’ruf menambahkan yang menjadi prioritas pertama adalah mengelola cash flow dari penghasilan dan pengeluaran. Harus ada pembagian peran dan tugas dengan pasangan.

“Misal suami berperan untuk pengeluaran rutin bulanan, dan investasi sedangkan istrinya bertugas sebagai eksekutor membagi investasi untuk tujuan misal pendidikan anak, modal usaha, dan periapan hari tua,” jelasnya.

Lebih lanjut, agar kondisi keuangan sehat, menurut ilmu perencanaan keuangan, persentase utang maksimal hanya 30% dari penghasilan.

Di awal memulai kehidupan keluarga pasti ada cita-cita dan harapan untuk masa depan bersama. Anda dan pasangan harus mulai membuat daftar dan lunasi utang terutama utang konsumtif seperti kartu kredit, utang jalan-jalan bulan madu, dan lain-lain.

“Jika Anda dan pasangan menciptakan kebiasan menjaga utang maksimal 30% dari penghasilan, lalu menabung di awal terima penghasilan minimal sebesar 10% dari penghasilan, Anda dan keluarga sehat lahir batin dan pastinya keuangan juga,” katanya.

Seain itu, kita tidak pernah tahu kapan datang musibah sepeti sakit ataupun keadaan-keadaan darurat lainnya. Untuk itu, setelah kewajiban bulanan terpenuhi, alokasikan dana darurat. Besaran dana darurat yang perlu disiapkan apabila belum memiliki anak adalah enam kali dari penghasilan, apabila sudah memiliki anak sebesar 12 kali dari penghasilan bulanan.

Tag : tips keuangan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top