Penjualan Ritel Jepang Rebound Pada Juni

Kinerja penjualan ritel Jepang berhasil pulih pada bulan lalu setelah membukukan penurunan tajam pada bulan Mei. Hal ini sekaligus memperlihatkan tanda perbaikan konsumsi pada kuartal kedua.
Renat Sofie Andriani | 30 Juli 2018 08:22 WIB
Seorang wanita di toko Uniqlo Fast Retailing di Tokyo, Jepang (24/1/2017). - .Reuters/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja penjualan ritel Jepang berhasil pulih pada bulan lalu setelah membukukan penurunan tajam pada bulan Mei. Hal ini sekaligus memperlihatkan tanda perbaikan konsumsi pada kuartal kedua.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, yang dilansir Bloomberg, penjualan ritel naik 1,5% pada Juni atau sejalan dengan proyeksi. Penjualan ritel Jepang rebound setelah turun 1,7% pada Mei.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kinerja penjualan naik 1,8% atau lebih besar dari perkiraan untuk kenaikan 1,7%. Adapun penjualan di department store dan supermarket naik 1,5% dari tahun sebelumnya.

Sebagian besar penjualan ritel memang telah pulih dari kinerja kuartal pertama yang lemah, terlepas dari penurunan tajam pada bulan Mei.

Namun, kenaikan upah yang rendah menandakan bahwa para pembeli Jepang tetap enggan untuk benar-benar meningkatkan pengeluaran. Ini membuat pemulihan ekonomi Negeri Sakura masih bergantung pada ekspor saat prospek perdagangan terlihat semakin suram, terutama dengan tarif impor mobil yang direncanakan Amerika Serikat (AS).

“Belanja konsumen meningkat secara bertahap, karena pasar tenaga kerja ketat dan orang-orang mendapatkan pembayaran bonus musim panas mereka,” kata Shuji Tonouchi, ekonom pasar senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, dikutip CNBC.

“[Namun] saya masih khawatir tentang pengeluaran karena ada banyak pekerja paruh waktu. Harga tidak naik, sehingga BOJ akan mencoba mengubah pesannya tentang kebijakan.”

Tingkat pengangguran berada pada posisi 2,2%, level terendah dalam 25 tahun. Menurut para ekonom, hal ini harus mendukung belanja konsumen dengan memberi tekanan naik pada upah.

Sementara itu, terdapat risiko bahwa sentimen konsumen bisa melemah jika Jepang terjerat dalam perselisihan dengan Amerika Serikat seputar kebijakan perdagangan.

Seperti diketahui, pemerintah AS terlibat dalam perselisihan sengit dengan China atas surplus perdagangannya, dan ada kekhawatiran jika pemerintahan Presiden Donald Trump dapat meminta Jepang untuk mengambil langkah konkret menurunkan surplus perdagangannya juga.

Di sisi lain, Bank of Japan (BOJ) kemungkinan akan menurunkan perkiraan inflasi pada pertemuannya yang berakhir Selasa (31/7) dan dapat menyesuaikan program stimulus besar-besaran untuk membuat kebijakan moneternya lebih berkelanjutan.

Tag : ekonomi jepang
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top