Prabowo Bilang Indonesia Makin Miskin, Begini Jawaban Bappenas dan Ekonom Indef

Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) Bambang Brodjonegoro menyarankan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk melihat data formal soal angka kemiskinan.
JIBI | 31 Juli 2018 09:42 WIB
Warga beraktivitas di kawasan permukiman padat penduduk, di bantaran Kali Krukut Bawah, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (20/7/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) Bambang Brodjonegoro menyarankan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk melihat data formal soal angka kemiskinan.

"Ya kita lihat data saja ya. Intinya kita melihat data yang real, formal, resmi di mana data itu sudah berlaku sejak zaman Orde Baru," kata Bambang di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (30/7/2018).

Pada Jumat (27/7/2018), Prabowo mengklaim Indonesia menjadi tambah miskin dalam lima tahun ini. Hal itu juga ditambah dengan mata uang rupiah yang terus melemah.
Bambang mengatakan, data soal angka kemiskinan sudah ia paparkan dalam sebuah diskusi Forum Merdeka Barat 9.

Dalam acara itu, ia mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ada penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 1,82 juta jiwa, dengan 1,3 juta merupakan penduduk di pedesaan.

"Ada tren membaik penurunan kemiskinan di desa lebih tinggi. Berita baiknya, penurunan di pedesaan sekarang lebih cepat dari kota," katanya.

Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan turun dalam lima tahun terakhir. Pada 2 Januari 2018 lalu, BPS merilis data kemiskinan penduduk Indonesia per September 2017.
Dari data itu, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2017 tercatat mencapai 26,58 juta orang atau sekitar 10,12 % dari 268 juta lebih penduduk.

Jika ditarik hingga 5 tahun ke belakang, jumlah ini menurut data yang dikoleksi BPS, sudah mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin pada September 2012 tercatat mencapai 28,71 juta atau sekitar 11,66%. Artinya, penduduk miskin berkurang hingga 2,13 juta atau sekitar 7,4%.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan kemungkinan data yang disebutkan Prabowo masih data lama sebelum 2015. Bhima mengatakan per Maret 2018, jumlah penduduk miskin 25,9 juta orang dan pada Maret 2013, jumlah penduduk miskin 28,07 juta orang.

"Jadi lima tahun ini berkurang sekitar 2,17 juta orang. Jadi klaim kemiskinan naik 50% tidak benar," kata Bhima.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemiskinan

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top