Imbas Perang Dagang, Aktivitas Manufaktur China Melambat Pada Juli

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Selasa (31/7/2018), indeks manajer pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) sektor manufaktur turun menjadi 51,2 pada bulan Juli dari 51,5 pada bulan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho | 31 Juli 2018 10:59 WIB
Pekerja merakit tablet di sebuah pabrik perakitan elektronik di China.

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks aktivitas manufaktur China melemah pada bulan Juli karena kondisi kredit yang lebih ketat, perang dagang dengan AS dan mata uang yang fluktuatif mengikis kepercayaan di sektor manufaktur.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Selasa (31/7/2018), indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) sektor manufaktur turun menjadi 51,2 pada bulan Juli dari 51,5 pada bulan sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebesar 51,3 dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom.

Sementara itu, PMI non-manufaktur, yang meliputi sektor jasa dan konstruksi, berada pada level 54 dibandingkan dengan 55 pada bulan Juni. Level di atas 50 mengindikasikan ekspansi, sedangkan level di bawah 50 menandakan kontraksi.

Dilansir Bloomberg, pabrik-pabrik di China dihadapkan pada tantangan, baik di dalam maupun di luar negeri, yang dipicu oleh pertumbuhan kredit yang lebih lambat tahun ini sehingga menghambat permintaan dan pengenaan tarif AS terhadap barang impor asal China.

Pekan lalu, pemerintah China meluncurkan paket dukungan fiskal termasuk pemotongan pajak dan percepatan penerbitan obligasi untuk investasi infrastruktur.

Bersamaan dengan laporan PMI, indeks pesanan baru tercatat merosot ke level  52,3 dari 53,2 di bulan sebelumnya, dengan pesanan ekspor baru yang tersisa berada di wilayah kontraksi sebesar 49,8.

"Data jelas menunjukkan perlambatan dalam momentum ekonomi," kata Raymond Yeung, kepala ekonom China di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

“Ini mungkin menjustifikasi sikap fiskal yang lebih proaktif yang diluncurkan minggu lalu. Penurunan pesanan baru dan pesanan ekspor baru yang tetap datar berarti perlambatan berada pada pasar domestik, ” lanjutnya.

Sementara itu, AS diperkirakan akan terus meningkatkan tekanan tarif dan belum ada cukup isyarat pembicaraan antara kedua pemerintah yang akan mengurangi ketegangan.

Fluktuasi yang lebih luas dari nilai tukar telah membebani indeks ekspor dan impor, menurut pernyataan di situs web Biro Statistik Nasional.

Lebih banyak perusahaan dalam survei mengatakan pergerakan yuan telah berdampak pada kegiatan produksi mereka, dan pesanan ekspor dan impor bahan baku telah menurun untuk beberapa perusahaan karena meningkatnya ketegangan perdagangan internasional.

Yuan telah turun lebih dari 6% sejak awal Juni menyusul penguatan dolar AS yang dikombinasikan dengan tanda-tanda perlambatan domestik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top