Defisit Neraca Dagang Bisa Hambat Laju Pertumbuhan Ekonomi

Bisnis.com, JAKARTA Tren defisit neraca perdagangan diproyeksikan mempengaruhi realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2018. Meski demikian, secara umum pertumbuhan ekonomi selama triwulan II akan mengalami perbaikan.
Edi Suwiknyo | 31 Juli 2018 17:40 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto (tengah) menyampaikan paparan terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2017, di Jakarta, Rabu (6/11). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA –Tren defisit neraca perdagangan diproyeksikan mempengaruhi realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2018. Meski demikian, secara umum pertumbuhan ekonomi selama triwulan II akan mengalami perbaikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, sejauh ini kinerja neraca perdagangan belum menunjukkan perbaikan. Bahkan, dia memproyeksikan defisit neraca perdagangan yang telah terjadi beberapa waktu belakangan, menjadi kendala dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi.

“Kinerja ekspor impor ini akan menjadi kendala. Karena kita semua tahu bahwa neraca perdagangan kita masih menunjukkan angka yang defisit,” kata Suhariyanto kepada Bisnis, Selasa (31/7/2018).

Jika menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi pertumbuhan ekonomi selama triwulan I/2018 mencapai 5,06%. Untuk kinerja neraca perdagangan, meski Juni 2018 sempat surplus senilai US$1,74 miliar, tetapi kinerja neraca perdagangan tetap belum bisa dikatakan pulih, apalagi April 2018 defisit mencapai US$1,63 miliar, hal itu pun berlanjut pada Mei yang mencatatkan defisit senilai US$1,52 miliar.

Meski dihantui catatan negatif di sektor tersebut, Suhariyanto masih optimistis kinerja pertumbuhan ekonomi bakal lebih baik dibandingkan dengan kuartal I/2018. Dorongan konsumsi selama puasa dan Lebaran diproyeksikan memperbaiki kinerja konsumsi rumah tangga yang sampai kemarin masih mandek di bawah 5%.

"Jadi harusnya pertumbuhan pada kuartal dua bagus, konsumsi rumah tangga juga baik, data dari asosiasi juga menunjukkan ritel kita juga naik," ungkapnya.

Selain konsumsi rumah tangga, investasi dan kinerja belanja pemerintah pusat juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Khusus belanja pemerintah, sampai dengan semester I realisasinya mencapai Rp943 triliun atau tumbuh 5,7% dibandingkan dengan tahun lalu.

"Artinya meski ada risiko di neraca perdagangan, secara umum pertumbuhan ekonomi harusnya baik," jelasnya.

 

Tag : Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top