Optimisme Berbisnis di Inggris Belum Beranjak dari Level Terendahnya

Optimisme bisnis dan keyakinan konsumen di Inggris terpantau tetap melemah pada Juli. Hal itu disebabkan oleh kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Inggris (BOE) dan ketidakpastian Brexit
Dwi Nicken Tari | 31 Juli 2018 19:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Optimisme bisnis dan keyakinan konsumen di Inggris terpantau tetap melemah pada Juli. Hal itu disebabkan oleh kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Inggris (BOE) dan ketidakpastian Brexit.

Menurut laporan Lloyds Bank, keyakinan berbisnis perusahaan Inggris pada Juli tetap tidak bergerak dari level terendahnya tahun ini di level 29%. Sebelum referendum Brexit, perolehan keyakinan berbisnis di Inggris selalu berada di sekitar level 40% dan 50%.

“Ada beberapa peningkatan optimisme tapi tetap lemah,” tulis Lloyds, seperti dikutip Reuters, Selasa (31/7/2018).

Lloyds menambahkan, kenaikan suku bunga oleh BOE pekan ini juga akan memberikan dampak negatif yang signifikan untuk indeks keyakinan berbisnis di Inggris.

BOE diperkirakan menaikkan suku bunga ke level 0,75% dalam rapat kebijakan pada 2 Agustus 2018. Kenaikan ini merupakan yang kedua kalinya dan para pembuat kebijakan telah mengingatkan agar pasar mempersiapkan diri untuk kenaikan selanjutnya dalam beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, GfK melaporkan, indeks yang mengukur keyakinan konsumen di Inggris turun ke level -10, atau terendah sejak Februari.

Joe Staton, Client Strategy Director di GfK menyatakan, konsumen menjadi bagian yang paling rentan di tengah-tengah ketidakpastian Brexit.

“Dalam jangka menengah, sulit untuk memperhitungkan kemungkinan kabar baik yang dapat mengubah angka negatif menjadi positif. Apalagi selama posisi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa masih tidak ada kepastian,” katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (31/7/2018).

Staton menambahkan, segala berita buruk seperti inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, atau masalah politik baik di luar maupun dalam negeri, akan menyeret keyakinan konsumen.

Di sisi lain, laporan terpisah dari YouGov dan Center for Economics and Business Research memperlihatkan bahwa konsumen di Inggris secara marjinal sebenarnya telah lebih optimistis pada bulan ini.

Hal itu ditopang oleh keamanan di dalam lingkungan kerja telah ditingkatkan ke level tertingginya sejak Juli 2015. Kendati demikian, indeksnya masih berada di bawah level yang pernah dicapai sebelum referendum Brexit.

Dalam perkembangan terpisah, kinerja manufaktur otomotif Inggris juga turun sebesar 3,3% pada paruh pertama 2018. Pasalnya, pengiriman produk otomotif ke luar negeri tidak dapat mengimbangi penururan produksi untuk pasar domestiknya. Sejauh ini, sebanyak 8 dari 10 produksi otomotif Inggris dikirimkan keluar negeri, khususnya Jepang dan Korea Selatan.

Michael Hawes, CEO dari Society of Motor Manufacturers and Traders menilai kinerja manufaktur otomotif tersebut memperlihatkan pentingnya perdagangan bebas untuk Inggris setelah Brexit.

Hawes menjelaskan, Brexit masih menjadi kekhawatiran terbesar industri otomotif di Inggris. Pasalnya, industri otomotif Inggris dapat menderita kerugian besar jika Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan.

"Tantangan yang akan datang itu besar sekali. Hal itu [Brexit] merupakan salah satu poin tidak pasti untuk masa depan industri otomotif,” katanya, seperti dikutip Bloomberg.

Tag : ekonomi inggris, Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top