BRI Agro Raup Laba Rp130,93 Miliar

PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. menorehkan laba sebesar Rp130,93 miliar, tumbuh dibandingkan dengan capaian pada Juni tahun lalu senilai Rp50,19 miliar. Realisasi tersebut melebihi target laba semester I/2018 dalam rencana bisnis bank (RBB) yakni sejumlah Rp 122,77 miliar.
Ilman A. Sudarwan | 31 Juli 2018 23:16 WIB
Direktur Utama PT Bank BRI Agroniaga Tbk Agus Noorsanto (kanan) berbincang dengan Komisaris Utama Hexana Tri Sasongko, sebelum rapat umum pemegang saham tahunan dan luar biasa (RUPSTLB) perseroan, di Jakarta, Selasa (26/6/2018). - JIBI/Endang Muchtar

KINERJA SEMESTER I/2018

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (BRI Agro) mencatatkan pertumbuhan bisnis di atas target hingga pertengahan tahun ini. Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tersebut menorehkan laba sebesar Rp130,93 miliar, tumbuh dibandingkan dengan capaian pada Juni tahun lalu senilai Rp50,19 miliar. Realisasi tersebut melebihi target laba semester I/2018 dalam rencana bisnis bank (RBB) yakni sejumlah Rp 122,77 miliar.

Direktur Utama BRI Agro Agus Noorsanto mengatakan bahwa pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp326,06 miliar atau tumbuh 47,97% secara tahunan. Dengan pertumbuhan tersebut, laba operasional tumbuh 183,46% menjadi Rp175,46 miliar.

“Aset kami juga tumbuh 13,05% secara year on year menjadi Rp18,77 miliar atau setara dengan 99,96% target pertumbuhan dalam RBB,” ujarnya, Selasa (31/7).

Fungsi intermediasi BRI Agro juga menunjukkan peningkatan positif. Hal itu tercermin dari total kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat masing-masing 19,85% dan 19,81% secara tahunan. Keduanya mencapai nilai Rp13,16 triliun dan Rp14,88 triliun.

Agus mengatakan, perseroan menargetkan kredit dapat tumbuh sekitar 35% secara tahunanhingga akhir. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, BRI Agro berencana memperbanyak diversifikasi pembiayaan.

Hingga pertengahan tahun ini, lanjutnya, total penyaluran kredit perseroan lebih banyak diberikan kepada sektor perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit yang mencapai 75% dari total kredit perkebunan.

Adapun dari segmen kreditnya, alokasi kredit BRI agro sebesar 60% diberikan kepada segmen menengah. Sementara itu, kredit konsumer dan ritel menduduki sekitar 40% dari total komposisi kredit perseroan saat ini.

“Ke depan kami akan memaksimalkan penyaluran kredit komersial nonperkebunan, seperti sindikasi pembangunan jalan tol dengan pusat dan sebagainya. Komersial [non agribisnis] saat ini masih sekitar 25%, targetnya bisa mencapai 30% pada akhir tahun,” katanya.

Dia juga menyebut potensi kredit konsumer BRI Agro masih cukup besar mengingat banyaknya debitur potensial dari perusahaan debitur yang belum disentuh oleh perseroan. “Hal ini [kredit konsumer] harapannya bisa mendorong kredit pada akhirnya,” katanya.

Selain itu, perseroan berencana memperkuat porsi dana murah atau current accout and saving account (CASA) hingga mencapai 15% pada akhir tahun ini. Salah satu strateginya adalah dengan memaksimalkan penawaran layanan melalui perusahan induk dan optimalisasi layanan kanal elektronik.

“Kami ingin memperkuat basis nasabah dengan meningkatkan layanan electronik banking kami yang baru disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan [OJK], rencananya akan dirilis pada saat ulang tahun kami nanti,” jelasnya.

Bank berkode saham AGRO tersebut juga mencatatkan perbakan kualitas aset pembiayaan. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun ke level 2,2% dari Juni tahun lalu senilai 3,81%.

Namun, Agus mengatakan bahwa penurunan NPL tersebut tidak terjadi di semua segmen, khususnya pada segmen ritel dan konsumer yang masing-masing mencapai level 4% dan 7%. BRI Agro telah menyiapkan strategi khusus untuk memperbaiki kualitas aset pada kedua segmen tersebut.

“Kami sudah angkat orang baru yang lebih mengerti tentang konsumer, khususnya KPR. Harapannya, penyaluran kredit bisa lebih terarah dan kualitasnya lebih terjaga. Yang lama-lama juga akan kita selesaikan supaya NPL-nya membaik,” katanya.

Terkait rencana perseroan untuk melakukan penawaran umum terbatas atau right issue untuk memperkuat sisi permodalan, dia mengatakan bahwa perusahaan induk siap menggunakan haknya apabila saham baru tidak terserap dengan baik oleh pasar.

“Kami ingin agar porsi kepemilikan publik dapat meningkat, karena saat ini porsinya baru sekitar 6%. BRI akan menggunakan haknya, tetapi porsinya tetap tidak akan melewati batas maksimum,” katanya.

Tag : bri agro
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top